Berbagi Informasi
Empat Kwadrant kesiapan start-up hal mandatory harus ditindak lanjuti. Enam bulan sebelum Commissioning dan Start-up, ke 4 kwadrant tersebut harus telah siap untuk tugas dikilang baru, mencegah gagal persiapan & kurang matang kualitas persiapan.
Kwadrant-1: Memerlukan keputusan management puncak terkait rekrutasi pekerja baru dan lama dan perubahan organisasi
Kwadrant-2: Memerlukan persiapan pelatihan bertahap, lingkup teori, pelatihan pembentukkan kemampuan kerja dan keterlatihan atau Skill yang terukur, dilatih dikilang sejenis serta melalui proses penilaian kemampuan “knowledge & Skill” yang diukur oleh senior dari unit terkait yang didelegasikan dinilai mampu.
Kwadrant-3: Merupakan Lingkup Project dalam membangun Unit Kilang sesuai kontrak dengan performa standard International, sesuai best practices refinery world class.
Kwadrant-4: Merupakan persiapan tim project dan tim CSU Organisasi baru untuk mempastikan kesiapan material untuk operasi serta pemeliharaan kilang dan sitim pemeliharaan yang akan menyertai / mendampingi commissioning, start-up dan normal operasi selanjutnya.
Perlaksanaan persiapan diawali kwadrant-1 searah jarum jam. Semua persiapan harus terukur guna memastikan kemampuan untuk menjalankan kilang baru telah dipersiapkan secara terencana, matang.
(Tulisan DR Mario Da Silva)
Crude Oil atau Minyak mentah merupakan campuran kompleks hidrokarbon yang terbentuk secara alami di dalam bumi.
Minyak mentah dapat dipisahkan menjadi berbagai fraksi melalui proses distilasi untuk menghasilkan turunan yang paling bermanfaat bagi masyarakat, seperti bahan bakar dan petrokimia.
Pemilihan jenis minyak mentah (*crude oil slate*) yang tepat merupakan salah satu keputusan paling krusial (menentukan dan Rumit) bagi pihak pengolah minyak (kilang).
Fasilitas peralatan kilang dirancang dengan mempertimbangkan rentang karakteristik minyak mentah tertentu yang akan diproses. Namun, sepanjang masa pakai fasilitas tersebut, jenis minyak mentah yang diproses dapat mengalami perubahan signifikan, baik akibat kelangkaan minyak mentah dengan karakteristik tertentu maupun kesulitan pasokan yang terkait dengan masalah geopolitik.
Karakterisasi dan klasifikasi berbagai jenis minyak mentah bertujuan untuk menentukan nilainya—terutama dalam kaitannya dengan minyak mentah acuan seperti Brent dan WTI (*West Texas Intermediate*)—serta menetapkan jalur teknologi dan proses kilang yang sesuai untuk pengolahannya.
Pada dasarnya, minyak mentah terdiri dari campuran hidrokarbon dan pengotor (*impurities*) yang menyertainya. Pengotor ini umumnya meliputi belerang, nitrogen, oksigen, dan logam. Konsentrasi pengotor tersebut secara signifikan meningkatkan tantangan teknis dalam pengolahan minyak mentah, yang berdampak pada penurunan harga minyak mentah sesuai dengan tingkat konsentrasi pengotornya. Penentuan jenis minyak mentah yang akan diproses di kilang didasarkan pada pencampuran (*blending*) minyak mentah, dengan tujuan mencapai komposisi hidrokarbon dan kontaminan yang tepat agar proses dapat berjalan secara andal dan menguntungkan.
Seltsa Gambar berikut – menyajikan variabel-variabel utama yang dipertimbangkan dalam pemilihan jenis minyak mentah untuk diproses di fasilitas kilang.
Beberapa skenario—seperti ditemukannya cadangan minyak mentah melimpah yang memiliki karakteristik berbeda dari jenis yang sesuai untuk fasilitas kilang tertentu—dapat mendasari keputusan investasi modal untuk menyesuaikan fasilitas kilang agar mampu memproses jenis minyak mentah tersebut. Situasi ini umum terjadi ketika perusahaan pengolah minyak merupakan importir dan cadangan minyak baru ditemukan di pasar lokal.
Crude Berubah
(Crude tertentu berkurang, Habis / Harus Ganti Crude untuk CDU)
Keterbatasan Sarana
(Sarana TK Kilang Jumlah Terbatas)
Terkait kandungan hidrokarbonnya, minyak mentah mengandung molekul parafinik, naftenik, dan aromatik yang menentukan karakteristik kimia dan fisik minyak mentah tersebut.
Minyak mentah dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristik fisik dan kimia hidrokarbon yang ditemukan dalam reservoir geologis; salah satu klasifikasi yang paling umum digunakan adalah *API grade* (derajat API), yang didasarkan pada berat jenis (*specific gravity*) minyak mentah sebagaimana dijelaskan dalam Persamaan 1.1.
Di mana ρ = berat jenis minyak mentah
Tabel 1.1 menyajikan contoh klasifikasi minyak mentah berdasarkan API. Perlu dicatat bahwa derajat API merupakan parameter klasifikasi dasar minyak mentah.
Karakteristik minyak yang sangat relevan bagi peralatan kilang adalah keasaman naftenat.
Keasaman naftenat ditentukan berdasarkan jumlah KOH yang diperlukan untuk menetralkan 1 gram minyak mentah. Biasanya, komposisi campuran minyak mentah yang diumpankan ke kilang diatur agar tidak melebihi batas 0,5 mg KOH/g. Di atas ambang batas ini, bagian bawah unit distilasi dapat mengalami korosi parah, yang mengakibatkan masa operasi menjadi lebih singkat dan biaya operasional meningkat, di samping menimbulkan masalah terkait integritas dan keselamatan. Keasaman naftenat berkaitan langsung dengan konsentrasi senyawa beroksigen dalam minyak mentah—yang cenderung terkonsentrasi pada
fraksi-fraksi lebih berat—sehingga menyebabkan ketidakstabilan dan aroma tertentu pada aliran produk antara.
Karakteristik lain yang relevan dari minyak mentah adalah kandungan garam (NaCl). Kehadiran garam dalam minyak menyebabkan masalah korosi yang serius, terutama pada unit distilasi atmosfer.
Kandungan garam setelah penghilangan garam pada unit distilasi atmosfer dikendalikan agar berada di bawah 3 ppm.
Kandungan sulfur juga merupakan salah satu variabel yang digunakan dalam karakterisasi minyak mentah mengingat dampaknya terhadap emisi gas berbahaya ketika menggunakan turunannya sebagai bahan bakar.
Selain itu, senyawa sulfur meningkatkan polaritas minyak mentah, yang menyebabkan stabilisasi emulsi dan kesulitan yang lebih besar dalam proses penghilangan garam. Biasanya, minyak diklasifikasikan sebagai tinggi sulfur ketika memiliki kadar di atas 0,5% berat dan rendah sulfur di bawah angka tersebut. Minyak dengan kandungan sulfur tinggi membutuhkan kapasitas hidrogenasi yang lebih besar untuk memenuhi persyaratan lingkungan saat ini untuk komersialisasi produk minyak.
Kehadiran kontaminan seperti sulfur, nitrogen, dan oksigen adalah parameter relevan lainnya untuk mengklasifikasikan minyak mentah dan memiliki dampak besar pada penentuan proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan turunan minyak mentah yang diperlukan. Biasanya, minyak mentah yang lebih ringan memiliki hasil aliran nilai tambah yang lebih tinggi seperti nafta dan diesel, serta kandungan kontaminan yang lebih rendah, yang menyebabkan minyak mentah ini mencapai harga yang lebih tinggi di pasar internasional. Saat ini, minyak mentah dengan kandungan sulfur rendah cenderung lebih dihargai di pasar, terutama karena peraturan IMO 2020 (aturan Organisasi Maritim Internasional tentang pembatasan emisi sulfur).
Peraturan ini menetapkan bahwa setelah tahun 2020, kandungan sulfur maksimum dalam bahan bakar minyak transportasi maritim (bunker) adalah 0,5% (m.m) dibandingkan dengan sebelumnya 3,5% (m.m). Tujuan utamanya Adalah untuk mengurangi emisi SOx dari armada maritim, sehingga secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dari bisnis ini.
Bahan bakar minyak maritim, yang dikenal sebagai bunker, adalah bahan bakar minyak dengan viskositas relatif rendah yang digunakan dalam mesin siklus diesel untuk pergerakan kapal. Sebelum tahun 2020, bahan bakar bunker diproduksi melalui
pencampuran aliran residu seperti residu vakum dan minyak yang telah dihilangkan aspalnya dengan pengencer seperti minyak gas berat dan minyak siklus ringan (LCO). Karena peraturan baru, sebagian besar kilang tidak akan mampu memproduksi bahan bakar bunker rendah sulfur melalui pencampuran sederhana.
Karena diproduksi dari aliran residu dengan berat molekul tinggi, ada kecenderungan akumulasi kontaminan (sulfur, nitrogen, dan logam) dalam bahan bakar bunker.
Fakta ini membuat sulit untuk memenuhi peraturan baru tanpa langkah pengolahan tambahan, yang seharusnya menyebabkan peningkatan biaya produksi turunan ini dan kebutuhan akan modifikasi dalam skema penyulingan beberapa kilang.
Alternatif pertama untuk memenuhi IMO 2020 adalah pengendalian kandungan sulfur dalam minyak mentah yang akan diproses di kilang. Namun, solusi ini membatasi fleksibilitas operasional kilang dan membatasi pemasok minyak mentah, yang dapat menjadi ancaman dalam skenario dengan ketidakstabilan geopolitik dan volatilitas harga minyak mentah.
Menurut penelitian Fitzgibbon dkk. (2017), hanya sebagian kecil minyak mentah yang mampu menghasilkan residu atmosfer yang memenuhi persyaratan baru untuk kandungan sulfur bahan bakar kapal.
Karena keterbatasan pasokan minyak mentah rendah sulfur, penggunaan teknologi peningkatan residu yang bertujuan untuk mengurangi kontaminan yang terkandung dalam aliran yang diterapkan dalam produksi bahan bakar kapal merupakan strategi yang efektif.
Terlepas dari tantangan yang ditimbulkan oleh IMO 2020, beberapa kilang dan produsen minyak mentah terpapar secara positif terhadap peraturan baru ini, seperti minyak mentah Brasil dari cadangan pra-garam, cadangan Ural Rusia, dan cadangan Laut Utara Britania Raya.
Cadangan pra-garam Crude memiliki minyak mentah rendah sulfur, dengan kandungan sulfur bervariasi dari 0,3% hingga 0,67% (berdasarkan massa). Karakteristik minyak mentah Brasil ini merupakan keunggulan kompetitif yang besar tidak hanya bagi sektor hilir, tetapi juga penting untuk mempertimbangkan valuasi minyak mentah ini di pasar dengan mempertimbangkan pembatasan yang diberlakukan oleh IMO 2020. Saat ini, cadangan pra-garam merupakan sumber minyak mentah utama bagi kilang-kilang Brasil, dan sektor hilir Brasil dapat memproduksi bahan bakar kapal yang sesuai dengan IMO 2020 sejak tahun 2019.
Kandungan nitrogen juga merupakan karakteristik minyak mentah yang relevan untuk dipertimbangkan saat memilih bahan baku untuk diproses di kilang. Senyawa nitrogen cenderung menstabilkan emulsi, yang menyebabkan kesulitan yang lebih besar dalam menghilangkan garam dari minyak. Selain itu, senyawa nitrogen bertanggung jawab atas ketidakstabilan kimia pada turunan, yang menyebabkan pembentukan polimer dan perubahan warna, terutama pada minyak tanah penerbangan. Senyawa nitrogen berlebih juga dapat menyebabkan deaktivasi fungsi asam katalis dalam proses konversi mendalam, seperti FCC.
Kandungan logam dalam minyak mentah merupakan variabel yang relevan karena, seperti kontaminan lainnya, cenderung terkonsentrasi dalam fraksi minyak yang lebih berat. Fraksi-fraksi ini cenderung diproses dalam unit konversi mendalam, seperti hidrokraking dan perengkahan katalitik, dan cenderung menyumbat pori-pori katalis, menyebabkan deaktivasi cepat katalis tersebut, secara signifikan meningkatkan biaya operasional, dan memerlukan pemasangan lapisan pelindung untuk melindungi katalis aktif.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, minyak mentah yang dianggap ringan cenderung lebih dihargai di pasar, terutama dalam skenario pasar saat ini di mana terdapat kecenderungan untuk meningkatkan permintaan perantara petrokimia yang merugikan bahan bakar transportasi.
Karakterisasi minyak mentah yang memadai memungkinkan penetapan tantangan utama untuk pengolahannya dan campuran minyak mentah yang diperlukan untuk mencapai komposisi yang memadai untuk setiap peralatan penyulingan, baik dari segi profitabilitas maupun tingkat kontaminan maksimum yang diizinkan untuk pengolahan yang andal, dan yang memastikan integritas aset operasional.
1.2 PROSES PENGOLAHAN UTAMA MINYAK MENTAH
Keandalan unit pengolahan sangat penting agar kilang dapat mencapai keandalan yang diinginkan dan menjaga daya saing serta pasokan pasar konsumen.
Kontinuitas operasional kilang bergantung pada beberapa faktor dan sistem manajemen yang kuat. Namun, kualitas bahan baku (minyak mentah) adalah salah satu faktor utama dalam memastikan keandalan dan integritas proses penyulingan. Biasanya, minyak mentah yang akan diolah di kilang harus memenuhi beberapa persyaratan kualitas yang bertujuan untuk menjaga unit pengolahan pemisahan dan konversi, terutama unit distilasi atmosfer. Kandungan air dan sedimen maksimum dalam minyak mentah dikendalikan agar lebih rendah dari 1% volume. Parameter relevan lainnya adalah kandungan garam terlarut dan angka asam total (TAN), yang didefinisikan sebagai jumlah KOH (kalium hidroksida) yang dibutuhkan untuk menetralkan 1 gram minyak mentah.
Untuk mencapai persyaratan ini, minyak mentah menjalani serangkaian pengolahan. “Perlakuan primer” ini bertujuan untuk memastikan siklus hidup aset hilir dan tengah.
Proses ini umumnya berfokus pada pemisahan fase air, gas, dan minyak mentah.
Destilasi Crude
Turunan Produk MINYAK MENTAH
Pengolahan minyak mentah menghasilkan serangkaian turunan dengan permintaan dan nilai tambah yang berbeda.
Gambar 1.4 menyajikan diagram alir proses yang disederhanakan untuk unit distilasi minyak mentah atmosferik dan turunan utama yang dihasilkan di unit ini.
Aliran yang dianggap sebagai gas bahan bakar biasanya terdiri dari hidrokarbon dalam kisaran C1 hingga C2 dan digunakan sebagai bahan bakar di pemanas dan boiler di kilang minyak sendiri.
Parameter kualitas utama yang dikontrol dalam gas bahan bakar adalah kelembaban dan kandungan hidrogen sulfida (H2S). Persyaratan ini biasanya dikontrol di unit dehidrasi menggunakan propilen glikol dan unit pengolahan amina, masing-masing.
Konsentrasi H2S dikontrol agar berada di bawah 1% dalam volume dan kandungan kelembaban.
LPG biasanya terdiri dari hidrokarbon parafinik dan olefinik dalam kisaran C3 hingga C4 dan digunakan sebagai bahan bakar domestik dan transportasi dalam kasus-kasus tertentu. LPG dapat mengandung sejumlah kecil hidrokarbon ringan dan berat (C2 dan C5). Namun, konsentrasi senyawa ini perlu diminimalkan, dengan tujuan agar tidak kehilangan persyaratan kualitas. Konsentrasi hidrokarbon ringan dikendalikan melalui tekanan uap Reid (RVP), yang ditentukan dengan pemanasan LPG pada suhu 37,8°C. Kandungan ringan dikendalikan untuk alasan keamanan, dengan tujuan menjaga volatilitas LPG di bawah nilai aman untuk memungkinkan penyimpanan dan penanganan. RVP LPG komersial dikendalikan agar berada di bawah 1430 kPa. Karena LPG biasanya dibakar dalam lingkungan tertutup, pengendalian residu pembakaran adalah salah satu persyaratan kualitas terpenting dari turunan ini. Kandungan berat dikendalikan melalui uji pelapukan yang mengevaluasi kesulitan penguapan LPG. Dengan mengukur secara tidak langsung, kandungan C5+ dalam campuran biasanya ditentukan oleh suhu didih 95% volume campuran di bawah tekanan atmosfer dan biasanya dikendalikan agar berada di bawah 2°C.
Aliran nafta biasanya dialirkan ke kolam bensin kilang sesuai dengan konfigurasi penyulingan dan permintaan pasar tempat kilang tersebut berada.
Aliran yang membentuk kolam bensin juga bergantung pada skema penyulingan.
Namun, umumnya komposisi kolam bensin terdiri dari nafta hasil penyulingan langsung, nafta hasil cracking dari unit FCC, nafta hasil reforming dari unit reforming katalitik, nafta terisomerisasi dari unit isomerisasi, dan nafta teralkilasi yang dihasilkan di unit alkilasi katalitik.
Bensin terdiri dari campuran aliran-aliran ini yang mengandung hidrokarbon dengan kisaran titik didih 30–215°C (C4 hingga C10). Di antara persyaratan kualitas utama bensin adalah kapasitas anti-ketukan, volatilitas, korosivitas, emisi polutan, dan kecenderungan pembentukan residu pembakaran di mesin. Kapasitas anti-ketukan bensin diukur melalui angka oktan yang ditentukan dengan menggunakan isooktana (2,2,4-trimetil pentana) sebagai standar dengan angka oktan 100 dan n-heptana dengan angka oktan 0. Angka oktan mewakili persentase volume isooktana dalam campuran dengan n-heptana, yang terbakar dengan kualitas anti-ketukan yang sama dengan bensin yang dianalisis (diukur melalui intensitas suara), pengujian untuk menentukan angka oktan dapat berupa uji MON (motor octane number) dan uji RON (research octane number). Bensin otomotif umum memiliki angka oktan mendekati 85. Aliran nafta yang menambahkan kapasitas anti-ketukan lebih tinggi pada bensin adalah nafta hasil cracking dari unit FCC karena kandungan olefin yang tinggi, nafta hasil reforming karena konsentrasi aromatik yang tinggi, dan nafta dari alkilasi katalitik karena karakteristik bercabang dari jenis parafin yang dihasilkan. Namun, kandungan aromatik dan olefin biasanya dikontrol dalam bensin akhir karena toksisitas dan volatilitas tinggi dari senyawa-senyawa ini.
Volatilitas bensin berkaitan dengan kandungan zat ringan dalam campuran yang secara langsung bertanggung jawab atas kemudahan penyalaan dingin mesin pembakaran internal.
Tekanan uap Reid (PVR) bensin secara tidak langsung mengukur jumlah zat ringan yang ada dalam campuran, dan untuk LPG, PVR bensin ditentukan pada 37,8°C (100°F) pada 1 atm dan biasanya dikontrol agar berada di bawah 55 kPa.
Korosivitas dan emisi bensin dikontrol melalui kandungan sulfur dalam produk akhir. Saat ini, kandungan sulfur dalam bensin dikontrol agar berada di bawah 50 ppm. Karena alasan ini, praktis tidak mungkin untuk memenuhi spesifikasi ini tanpa unit hidrogenasi. Unit hidrogenasi selektif terutama diterapkan untuk mengolah nafta hasil cracking dengan tujuan mengurangi kandungan sulfur dengan kehilangan kapasitas anti-ketukan minimum (karena saturasi olefin). Ketahanan terhadap pembentukan endapan secara langsung berkaitan dengan kandungan olefin dalam campuran. Senyawa-senyawa ini secara kimiawi tidak stabil dan mengalami polimerisasi, membentuk polimer yang menghasilkan endapan dan pembakaran yang tidak efisien. Penggunaan aditif antioksidan dan deterjen dalam bensin akhir dapat meminimalkan efek ini.
Kasus khusus bensin komersial adalah bensin penerbangan yang digunakan pada pesawat terbang yang dilengkapi dengan mesin siklus Otto. Dalam hal ini, hidrokarbon yang membentuk bensin memiliki rentang titik didih yang lebih ketat (30–170°C) yang mengandung parafin bercabang yang diproduksi oleh unit pemrosesan alkilasi katalitik.
Tergantung pada pasar yang akan dipasok dan tingkat interaksi operasi petrokimia dan penyulingan, nafta straight-run ringan dapat dikomersialkan sebagai nafta petrokimia. Dalam hal ini, perlu untuk menjamin kandungan parafin lebih tinggi dari 65%. Alternatif ini cenderung lebih banyak diterapkan seiring dengan kecenderungan penurunan permintaan bahan bakar transportasi. Lebih lanjut, di pasar dengan permintaan tinggi akan distilat menengah, nafta straight-run berat dapat diarahkan untuk membentuk campuran bahan bakar diesel atau jet.
Pada gilirannya, bahan bakar jet adalah campuran hidrokarbon antara C5 dan C15 dengan kisaran titik didih 150–300°C; bahan bakar ini digunakan untuk turbin jet, biasanya digunakan dalam penerbangan.
Karena beratnya kondisi penggunaan, bahan bakar jet memiliki persyaratan kualitas yang cukup ketat. Pembakaran harus sebersih mungkin untuk menghindari pengendapan. Oleh karena itu, kandungan poliaromatik dikontrol. Hal ini dicapai melalui uji titik asap.
Karakteristik aliran pada suhu rendah sangat penting untuk bahan bakar jet karena kondisi operasional yang dapat mencapai suhu −50°C. Titik beku maksimum untuk bahan bakar jet komersial adalah −47°C. Karena alasan ini, sangat penting untuk memastikan titik potong yang memadai pada tahap distilasi untuk menghindari tarikan parafin berat ke kerosin perantara. Stabilitas termal diukur melalui JFTOT (uji oksidasi termal bahan bakar jet), yang mensimulasikan kondisi operasional yang dialami bahan bakar.
Korosivitas dan stabilitas kimia yang berkaitan dengan material yang digunakan pada konstruksi turbin dikendalikan melalui kandungan sulfur total, sulfur merkaptan, dan H2S. Biasanya, bahan bakar jet menjalani tahap perlakuan kaustik untuk mengendalikan senyawa-senyawa ini. Di unit penyulingan modern, tahap ini dilakukan di unit hidrogenasi. Titik nyala (minimum 40°C) dan konduktivitas listrik adalah persyaratan lain yang secara langsung berkaitan dengan keamanan dalam penanganan turunan.
Diesel adalah turunan minyak mentah yang permintaannya paling meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Turunan ini terutama digunakan sebagai bahan bakar transportasi oleh kendaraan yang dilengkapi dengan mesin siklus diesel dan terdiri dari hidrokarbon antara C10 dan C25 dengan kisaran titik didih 150–380°C. Kualitas pembakaran diesel diukur melalui angka setana yang sesuai dengan persentase volume setana (n-heksadekana) dalam campuran dengan heptametilnonana, yang terbakar dengan kualitas pembakaran yang sama dengan diesel yang dianalisis. Hidrokarbon parafinik linier adalah senyawa yang paling berkontribusi pada kualitas pembakaran diesel, meningkatkan angka setana sementara keberadaan aromatik mengurangi parameter ini dan merusak kualitas pembakaran. Saat ini, angka setana minimum diesel komersial adalah 48. Di beberapa negara, seperti Brasil, penambahan biodiesel dalam produk akhir bersifat wajib, dengan konsentrasi minimum 10% dalam volume.
Volatilitas diesel dikendalikan, bertujuan untuk memastikan kinerja start dingin dan keamanan selama penanganan. Titik nyala minimum 38°C dan suhu kurva distilasi yang sesuai dengan 50%, 85%, dan 95% volume yang dipulihkan dikendalikan dalam batas yang ditentukan untuk memastikan penguapan total dalam kondisi kerja. Parameter ini membatasi jumlah nafta yang ditambahkan ke dalam campuran diesel.
Parameter penting lainnya yang dikendalikan dalam diesel adalah titik penyumbatan yang bertujuan untuk mengendalikan kandungan parafin linier yang cenderung mengkristal pada suhu rendah dan membahayakan pasokan bahan bakar ke mesin. Titik penyumbatan ditentukan sesuai dengan kondisi cuaca di wilayah aplikasi. Di Brasil, titik penyumbatan dikendalikan dalam kisaran 0–10°C.
Pengendalian emisi diesel dilakukan dengan mengatur kepadatan bahan bakar untuk mengendalikan kandungan senyawa berat, terutama poliaromatik. Saat ini, kepadatan diesel komersial dikendalikan dalam kisaran 830–865 kg/m3 hingga diesel ultra-rendah sulfur (ULSD). Parameter ini dikendalikan agar berada di bawah 850 kg/m3.
Dalam beberapa dekade terakhir, telah ada upaya besar untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh pembakaran diesel. Saat ini, peraturan lingkungan mensyaratkan komersialisasi diesel rendah sulfur dengan kandungan sulfur maksimum 10 ppm. Namun, di beberapa pasar, terutama di negara berkembang, masih ada diesel yang dikomersialkan dengan kandungan sulfur yang lebih tinggi (500 ppm), tetapi ini akan segera berubah. Persyaratan ini menyebabkan
kebutuhan bagi kilang untuk memperluas kapasitas hidrogenasi mereka.
Viskositas juga merupakan parameter yang dikontrol dalam diesel, bertujuan untuk memastikan nebulisasi yang memadai di ruang pembakaran. Viskositas tinggi dapat berbahaya karena dispersi bahan bakar yang buruk, sedangkan viskositas rendah menyebabkan dispersi yang berlebihan. Biasanya, viskositas diesel dikontrol dalam kisaran 2–5 mm2/s. Lubrisitas diesel diukur untuk mengontrol keausan akibat gesekan komponen yang bersentuhan dengan diesel dan ditentukan melalui pengujian khusus. Lubrisitas dan konduktivitas listrik berhubungan langsung dengan konsentrasi senyawa polar yang berkurang setelah tahap hidrogenasi. Untuk ULSD, aditif biasanya digunakan untuk mengoreksi parameter ini.
Pengendalian kadar air dan senyawa sulfur, nitrogen, dan aromatik bertujuan untuk menghindari perkembangbiakan mikroorganisme yang menyebabkan penyumbatan filter dan menambah korosivitas pada turunan, serta meningkatkan stabilitas oksidasi dan pembentukan endapan.
Pengelolaan persyaratan kualitas turunan minyak mentah yang memadai sangat penting untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu kinerja, keselamatan, dan dampak lingkungan.
Memastikan efisiensi dan keandalan proses yang bertanggung jawab untuk mengendalikan parameter-parameter ini merupakan faktor kunci dalam mencapai daya saing dan keberlanjutan di industri penyulingan.
Formulasi bahan bakar minyak dilakukan dengan menambahkan pengencer ke residu vakum, bertujuan untuk mencapai viskositas tertentu sesuai dengan aplikasinya. Umumnya, pengencer yang digunakan adalah aliran gas oil dari distilasi vakum atau aliran dari unit konversi dalam seperti FCC (minyak siklus ringan) atau delayed coking (minyak gas ringan dan berat).
Dalam beberapa kasus, diesel digunakan sebagai pengencer. Parameter kualitas utama yang dikendalikan dalam produksi bahan bakar minyak adalah kandungan sulfur, viskositas, kandungan sedimen dan air, konsentrasi vanadium, titik nyala, dan titik tuang.
Bahan bakar minyak dianggap sebagai bahan bakar rendah sulfur ketika konsentrasi maksimum kontaminan ini adalah 1% massa dan bahan bakar tinggi sulfur ketika konsentrasi sulfur maksimum adalah 2,5%. Pengendalian kandungan sulfur bertujuan untuk membatasi emisi gas berbahaya selama pembakaran turunan. Pengendalian viskositas pada bahan bakar minyak bertujuan untuk meminimalkan biaya transfer dan memastikan aliran serta penguapan yang memadai di dalam
pembakar. Viskositas kinematik bahan bakar minyak industri (diukur pada 60°C) dikendalikan dalam kisaran 600–950 mm2/s.
Batasan kandungan air dan sedimen bertujuan untuk meminimalkan pengotoran, pengendapan, dan korosi pada peralatan proses serta kerusakan pada pembakar. Lebih lanjut, kehadiran air mengurangi nilai kalor karena sebagian energi yang dilepaskan digunakan untuk menguapkan air dan dapat memicu ketidakstabilan nyala api. Pengendalian kandungan vanadium maksimum bertujuan untuk meminimalkan efek serangan kimia logam ini pada refraktori boiler dan pemanas berbahan bakar, serta kerusakan metalurgi.
Kandungan vanadium maksimum dalam bahan bakar minyak adalah 200 ppm. Sementara itu, titik nyala diterapkan untuk mengendalikan emisi yang mudah menguap dan menambah keamanan selama penanganan turunan, sedangkan titik tuang bertujuan untuk memastikan aliran pada suhu rendah. Spesifikasi titik tuang bergantung pada kondisi cuaca di wilayah aplikasi.
Dalam beberapa kasus, perlu mencampur berbagai jenis bahan bakar minyak untuk memenuhi persyaratan kualitas. Dalam kasus ini, penting untuk mempertimbangkan kompatibilitas antara bahan bakar minyak tersebut. Minyak dari minyak mentah yang sangat parafinik menunjukkan ketidakcocokan kimia dengan Minyak yang dihasilkan dari minyak mentah dengan kandungan aspalten tinggi, setelah adanya parafin, akan mengendapkan aspalten karena pelarutan resin yang menstabilkan aspalten dalam larutan.
Aspal dianggap sebagai fraksi residu minyak mentah, biasanya terdiri dari molekul yang sebagian besar aromatik. Aspal diproduksi dari residu vakum yang diperoleh di bagian bawah menara vakum, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, atau dari pengenceran residu aspal yang diperoleh dari proses deasphalting pelarut.
Aplikasi utama aspal adalah komposisi perkerasan jalan. Di antara persyaratan kualitas aspal adalah konsistensi, kekerasan, daktilitas, termoplastisitas, viskoelastisitas, kerentanan termal, dan daya tahan.
Penentuan konsistensi dan kekerasan aspal bertujuan untuk menentukan kapasitas penanganan turunan tersebut. Variabel ini dievaluasi dengan uji penetrasi, yang dilakukan menggunakan jarum standar di bawah kondisi pembebanan, suhu, dan waktu tertentu. Duktilitas mengukur kemampuan aspal untuk memanjang sebelum putus. Persyaratan ini terkait langsung dengan kekuatan material ketika diaplikasikan pada komposisi perkerasan jalan.
Termoplastisitas dan viskoelastisitas dikontrol, bertujuan untuk kemungkinan aplikasi aspal panas dan pemulihan sifat material setelah pendinginan. Kerentanan termal memberi aspal kemampuan untuk menahan variasi suhu tanpa kehilangan sifat seperti konsistensi dan duktilitas. Selanjutnya, uji daya tahan dilakukan di bawah atmosfer agresif paparan udara dan panas, dan sifat-sifat lainnya kemudian dievaluasi kembali.
Titik nyala aspal dikontrol agar berada di bawah 235°C untuk memungkinkan penanganan turunan yang aman.
Bahan bakar minyak laut, yang disebut bunker, diproduksi dari residu dasar distilasi vakum. Turunan ini digunakan sebagai bahan bakar untuk kapal besar yang beroperasi dengan mesin siklus diesel. Dengan demikian, meskipun juga diproduksi dari residu vakum, minyak bunker memiliki persyaratan kualitas yang berbeda dan lebih ketat daripada bahan bakar minyak industri.
Karena penggunaan bahan bakar ini pada mesin diesel, perlu untuk mengontrol kualitas pembakaran bahan bakar tersebut.
Persyaratan ini dievaluasi secara tidak langsung melalui CCAI (indeks aromatisitas karbon terhitung), yang dievaluasi dari parameter densitas dan viskositas yang dikontrol.
Viskositas merupakan variabel yang sangat penting untuk bahan bakar karena secara langsung berkaitan dengan kemudahan nebulisasi turunan di ruang pembakaran.
Minyak dengan viskositas tinggi membutuhkan laju pemanasan yang lebih tinggi sebelum pembakaran. Viskositas bahan bakar umumnya dikontrol antara 2 dan 11 mm2/s (diukur pada 40°C). Fitur penting lainnya adalah titik tuang bahan bakar. Variabel ini bergantung pada kondisi iklim di wilayah aplikasi karena berkaitan dengan kemampuan mengalir pada suhu rendah, dan titik tuang bahan bakar biasanya dikontrol antara -6°C dan 6°C.
Kepadatan bahan bakar komersial dikendalikan antara 877 dan 897 kg/m3, sementara titik nyala minimum adalah 60°C untuk membatasi emisi yang tidak terkendali dan memberikan keamanan pada penanganan produk. Kandungan air dan sedimen maksimum untuk komersialisasi bahan bakar adalah 0,4% berdasarkan volume untuk menghindari korosi dan pengendapan limbah pada peralatan dan tangki penyimpanan.
Author
Marcio Wagner da Silva, PhD, is a process engineer and stockpiling manager in the crude oil refining industry based in São José dos Campos, Brazil. He earned a bachelor’s in chemical engineering at the University of Maringa (UEM), Brazil, and a PhD in chemical engineering at the University of Campinas (UNICAMP), Brazil. Dr. da Silva has extensive experience in research, design, and construction in the oil and gas industry, including developing and coordinating projects for operational improvements and debottlenecking to bottom barrel units. Moreover, he earned an MBA in project management at the Federal University of Rio de Janeiro (UFRJ) in digital transformation at PUC/RS, and he is certified in business from the Getulio Vargas Foundation (FGV).
Recently Dr. da Silva has dedicated his efforts to learning and sharing knowledge about the crude oil refining industry and taking part as an industry adviser to the International Association of Certified Practicing Engineers (IACPE), a member of the advisory board of The Catalyst Review Magazine from the Catalyst Group, and a member of the advisory board of the Global Energy Transition Forum, which is strictly committed to minimizing the environmental impact of the energy industry in a realistic and sustainable manner.
1. REACTOR Suhu > 476 – 555 C tempat berlangsung reaksi perekahan (Feed HC saat Kontak Dengan Katalis Panas Tertentu)
2. Yang Masuk Rx: Steam, Lift Gas, Catalyst Panas Dan Feed sejumlah tertentu
3. Keluar Rx berupa (GAS: H2, C1, C2, C3, C4), Naphtha, LCO, HCO, DCO / Slurry and Coke serta Uap Air Panas)
4. Di Rx :
5. Alat Yang ada di dalam Rx: Feed Nozzle. Di Riser saat katalis panas naik menuju ‘terminator pemisah Cat-Oil’ (ada ruang besar yang berupa big cylone (berupa ruang besar bila fi RFCC) arau (bejana terbuka bila di RCC), dilanjut dengan multicyclone pemisah lanjut particle halus cyclone vs uap gas/minyak hasil cracking dan ruang uap, ruang unggun katalis serta deepleg ujung bawah multicyclone tadi.
6. Variable Control Ops RX & Variable lainnya.
Jelaskan bagaimana komponen atau parameter berikut dan cara mengadilakan (secara peralatan dan cara operasi):
Indonesia memiliki Kilang BBM dengan kapasitas sekitar 1,271.3 MBSD
Ada 7 Kilang Pengolahan BBM yang tersebar di wilayah Indonesia
Pada Beberapa Kilang diantaranya mulai mengolah dari bahan baku minyak sawit. Kemajuan teknologi katalis buatan Indonesia.
1. RU II Dumai
Kilang minyak Dumai mengolah utamanya crude (minyak mentah) Minas dan ditambah crude minyka mentah Duri untuk menghasilkan berbagai produk olahan antara lain, Premium, Kerosene, Solar, Avtur, Produk Non BBM (Gas LPG), Naphtha, dan Green Cokes.
Kilang minyak RU III Plaju Sungai Gerong Palembang – Sumatra Selatan. Berlokasi di pesisir Sungai Gerong, Palembang, Sumatra Selatan ini dikenal sebagai kilang minyak tertua di Indonesia.
Kilang BBM memiliki dua lokasi yakni Kilang Plaju yang didirikan oleh Shell dari Belanda pada tahun 1904 dan Kilang Sungai Gerong, didirikan oleh Stanvac Amerika Serikat pada tahun 1926.
Kilang minyak legendaris ini dapat menampung 127.3 MBSD. Produk utama yang dihasilkan diantaranya adalah Premium, Solar, Minyak Diesel, Pertamax, LPG, Naphtha, dan LAWS.
Kilang RU IV Cilacap, Jawa Tengah merupakan kilang dengan fasilitas terlengkap dan memiliki produksi terbesar yaitu 348 MBSD. Kilang ini memasok 34 persen kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional atau 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Kilang ini merupakan satu-satunya kilang di Tanah Air yang memproduksi aspal dan base oil untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur di tanah air.
Pada Tahun 2011-2015 dibangun RFCC. Hal ini dari kajian bahwa residu CDU Cilacap dapat dikonversi jadi produk BMM bernilai lebih tinggi secara ekonomi. Pada tahun 2018-2019 Platforming fixbed reactor dirubah jadi CCR/Platforming agar nilai keekonomian naphtha selalu tinggi dan platforming tidak harus stop lagi untuk regenerasi katalisnya.
Kilang minyak RU VI Balongan, Jawa Barat tergolong kilang memiliki nilai strategis dalam menjaga kestabilan pasokan BBM ke wilayah DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat, dan sekitarnya.
Kilang minyak Balongan beroperasi mulai tahun 1994 dan dikelola oleh Pertamina RU VI. Kapasitas roduksi 125 MBSD minyak mentah, diolah menjadi Premium, Kerosene, HOMC 92, Solar, Pertamax, Pertamax Turbo, Avtur, LPG, Propylene, dan Decant Oil.
Bahan baku Kilang Balongan adalah minyak mentah dari kota Duri dan Minas yang berasal dari Provinsi Riau, atau setara dengan itu.
Kilang minyak RU VIIII Kasim dari wilayah ujung timur Indonesia ini dibangun di desa Malaba, kecamatan Seget, kabupaten Sorong, Papua. Lokasi kilang minyak Kasim sangat strategis bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) Petro China, kurang lebih 90 km sebelah selatan kota Sorong.
Kilang minyak RU VIII Kasim beroperasi sejak Juli 1997. Kapasitas 10 MBSD, dirancang untuk mengolah minyak mentah menjadi produk Premium, Solar, dan SR LSWR. Kontribusi sekitar 15 % dari total kebutuhan Maluku dan Papua.
Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur terletak di tepi teluk Balikpapan, meliputi areal seluas 2,5 km persegi. Kapasitas (semula) 260.000 MBSD. Mengolah minyak mentah menjadi produk Premium, Kerosene, Solar, Avtur, Pertamax, minyak Diesel, LPG, Naphtha, dan LSWR.
Kini Kapasitas bertambah 100 MBSD hingga menjadi 360 MBSD sehingga menjadi kilang terbesar di Indonesia. Dengan penambahan RFCC maka kemampuan konversi menjadi produk bernilai ekonmi lebih tinggi. Ex long residu yang dulu tidak bernilai tinggi dan dengan RFCC dibangun ditambah kapasitas CDU naik 100 MBSD. maka nilai keekonomian menjadi naik. Kunci kilang tetap sama, yaitu kehandalan, kelancaran operasi, sebagaimana kilang lainnya.
7. PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) merupakan anak usaha dari Subholding Refinery and Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional.
Berdasarkan sejarahnya, TPPI sudah didirikan berdasarkan akta kesepakatan pada tahun 1995 dan resmi beroperasi secara komersial pada tahun 2006 di Tuban, Jawa Timur merupakan kilang minyak yang dapat memasok 100 MBSD yang diolah menjadi berbagai produk seperti Premium, Kerosine, Solar, Pertamax, dan produk LPG.
Kini dikelola Pertamina, atau Subholding Refinery and Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional

Operasi Kilang BBM merupakan ‘kegiatan rutin, teratur’ di setiap kilang, 7×24 jam berkesinambungan perminggu, bulanan bahkan tahunan diharap tanpa stop kecuali terencana.
Semua yang karyawan berperan saling berbagi tugas saling bantu secara efektif dan efisiensi keberhasilan bersama. Kehandalan melalui cara kerja dikontrol bergantian (shift) maupun bergantian berbagi tugas menjadi solusi bersama. Semua lokasi terdeteksi untuk yakin aman, handal dan safe beroperasi dengan baik.
Safety first dan safety concern merupakan budaya yang terbentuk dan diterapkan bersama
KILANG BBM
Kilang BBM pada umumnya mengolah Crude Oil (minyak bumi mentah) untuk menghasilkan produk Bahan Bakar Minyak (BBM), dan sebagian ada yang menjadi bahan baku kilang petrokimia.
Kilang RNC (Kilang BBM Virtual) dalam tulisan ini menyajikan bahan pelatihan berbasis cara kerja kilang sebenarnya atau bahan serupa ditambah koleksi informasi best praktek kerja di kilang.
Perkembangan teknologi produk bbm era kini, ada bbm yang dari bahan baku lain, seperti dari Kelapa Sawit, ada juga Hasil Gasifikasi Batubara, atau lain sebagainya.
Saat Proses produksi, Faktor keekonomian proses produksi yang bisa menentukan apa bisa, dan siap diproduksi bersaing dipasar, untuk produksi selanjutnya.
Pada reaktor di Kilang, Proses perubahan struktur kimia Hydro carbon umumnya dengan bantuan proses yang menggunakan bantuan katalis dan pengaturan variable operasi reaktor agar lebih terarah dan efektif agar kondisi operasi reaktor nya optimum tapi aman berkesinambungan.
Kilang BBM, Sumber Bahan Baku nya adalah Crude Oil / Minyak Mentah, berasal dari berbagai sumber sumur minyak mentah / sumur bor minyak bumi dalam negeri dan manca negara. Kandungan fraksi destilat (“jenis dan komposisi fraksi Oil”) crude oil menjadi menentukan harga crude oil dalam bersaing dipasar dunia.
Fraksi hydrocarbon (HC) rantai pendek sampai HC rantai panjang, Rantai lurus atau rantai lingkar (ring HC) serta kontaminant (kandungan ikutan lain) berbeda beda disetiap crude, bawaannya sehingga nilai ke ekonimian – nilai jual- menjadi berbeda beda.
TANTANGAN KILANG PENGOLAHAN MINYAK BUMI.
TANTANGAN KILANG PENGOLAHAN MINYAK BUMI.
Bilamana ‘crude asli saat design CDU di suatu kilang mulai tidak tersedia lagi’, maka crude (minyak mentah) pengganti yang mirip fraksi HC nya, atau sejenis walau dari sumber crude yang berbeda beda, dicampur / dibuatkan, melalui proses campur (blending) crude di kilang sendiri sebelum masuk ke CDU agar diperoleh campuran crude oil yang memiliki komposisi fraksi destilat mirip crude saat design CDU pertama dibangun. Hal demikian membantu peran tray kolom destilasi berfungsi optimal dan CDU bisa berkapasitas sesuai design semula.
Perbedaan kualitas kandungan dalam crude oil, diikuti pertumbuhan konsumen (refinery baru), menyebabkan harga crude berbeda dan berubah ubah bahkan naik. Persaingan harga crude, faktor ketersediaan crude dunia makin terbatas. Kondisi demikian menjadi tantangan bisnis crude dunia, dan juga bagi Refinery Nusantara agar tetap survive.
Crude medium kaya akan naphtha, kerosene, solar itu mahal. Makin banyak fraksi berat seperti heavy oil, residu makin banyak, harga makin murah, harga crude tersebut dipasaran.
Untuk fraksi berat, Kilang memerlukan unit perengkah fraksi berat tersebut merubah menjadi fraksi ringan yang lebih bernilai jual tinggi.
Salah Satu Solusinya, dibangun Unit Khusus perengkah fraksi tertentu dari kandungan crude yang bernilai ekonomi rendah agar fraksi berat bisa diproses jadi fraksi lebih ringan rantai HC pendek bernilai ekonomi lebih tinggi pada unit khusus. CCR/Platforming, Hydrocracker, FCC / RFCC dan lainnya.
Crude
Berasal berbagai sumber (bawah tanah atau pun bawah laut) dibersihkan dari kadar 'garam, air, serta lumpur' ikutan. Dikilang di bersihkan di desalter sebelum masuk Crude Distilling Unit
Crude bersih ex Desalter masuk ke unit CDU untuk Proses lanjut.
CDU, berperan memisahkan fraksi (C1, C2 dan gas ikutan ringan lainnya), LPG (C3, C4), Light Naphtha dan heavy Naphtha, (Kerosene) komponen avtur, LGO/HGO komponen Solar, dan long residue.
Pemisahan fraksi hidrokarbon secara destilasi, memisahkan fraksi HC rantai panjang, rantai sedang, pendek secara destilasi pemilah titik didih / titik embun dan berat, berdasarkan perbedaan komposisi dari titik didih dan titik penguapan destilat pada pelat pelat (tray internal kolom).
Pemisahkan fraksi destilasi pada tray tray bertingkat. Kilang umumnya dilengkapi berbagai unit proses lanjut. Berikut suatu contoh blok diagram interkoneksi antar unit proses disuatu Refinery.
Sangat Tergantung Kepada
(a). Adanya Margin Laba Operasi Kilang (Hasil Jual Produk – Modal Operasi dengan cicilan investasi).
(b). Adanya Dukungan “6 Point Prasyarat Operasional Asset Kilang Yang Handal” dan Produktive, Sebagai Berikut ini:
CDU (PRIMARY PROCESS) & DOWNSTREAM UNIT
Sebelum CDU, ada desalter.
Umumnya Sarana unit proses yang ada dalam suatu refinery antara lain:
Operasi Kilang versi RNC – merupakan ‘kegiatan rutin, teratur’ setiap kilang, berkesinambungan 7×24 jam perminggu, berlangsung bulanan bahkan tahunan. Kegiatan disesuaikan perencanaan operasi kilang guna memenuhi kebutuhan pasar dan pola perioda perawatan kilang terbaik yang ditetapkan. Team Operasi Terlatih (Memiliki bekal Knowledge, Skill & Karakter Yang Terbentuk Untuk Kerja Kilang berkesinambungan bergilir). Team operasi terlatih untuk diandalkan tea management operasi.
Perusahaan umumnya memiliki visi, misi dan tujuan untuk memberi arah dalam mengelola sumberdaya perusahaan (Internal & eksternal)
Pelaksanaan dibentuk oleh sistim management. Ciri management efektif, memiliki visi, misi, tujuan perencanaan, jangka tertentu untuk arah atau objective yang hendak dicapai dan anggaran telah disiapkan.
Para manager terlibat sesuai fungsi tugas jabatan masing masing. Sesuai dan berperan membantu efektifitas dan efisiensi untuk tujuan yang ditetapkan perusahaan. Keberhasilan dinilai dari kualitas hasil yang baik, tepat waktu, tepat kualitas, sesuai anggaran secara efisien. Kegiatan berkesinambungan dan diusahakan tercipta suasana kondusif di dalam maupun di lingkungan luar perusahaan.
Kegiatan ‘Management Operation & Manufacturing Refinery’ merupakan Kegiatan managemen pengelolaan kilang secara terpadu lintas fungsi untuk kelansungan operasi berkesinambungan.
Mengatur semua sumberdaya dalam sistim organisasi kilang – (manpower, infrastruktur asset management). Dikelola sesuai rencana operasi & manufactuirng activities di kilang.
Target utamanya agar kegiatan produksi arus minyak perusahaan, dikelola agar berkesinambungan, lancar, aman, handal, efektif, efisien atau lebih baik.
Pengelolaan sistimatis, teratur dengan system tata kerja, tata waktu, pola management operasional yang jelas, tegas, mudah dipahami. Dijalankan semua pekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing masing, dipimpin dengan kendali dan peraturan yang jelas.
Semua kegiatan terukur, dipertanggung jawabkan, diaudit dan dibahas bersama agar hasil kinerja berkala, dan keberlangsungan operasi kilang baik.
Penerapan disiplin Safety Operasi Kilang, menerapkan pola maintenance dan management lingkungan dijaga baik. Ketaatan terhadap peraturan pemerintah untuk peralatan dan keselamatan / safety publik disekitar kilang dikelola secara disiplin dan ketat.
Membangun sistim kegiatan yang bisa teratur tersebut untuk pertama kali menjadi tantangan pada organisasi baru yang dibangun.
2.1. Ruang Lingkup
Aspek Management yang dibahas hanya dibatasi pada aspek teknis kegiatan operasi di refinery. Artinya akan lebih banyak mengarah kepada pembahasan kegiatan operasi kilang dan seperti keputusan teknis prioritas pengelolaan unit tertentu saja.
Dikilang, bila ada suatu keputusan untuk “situasi tertentu” perlu dipertimbangkan dan diputuskan dengan cepat tapi seksama, khususnya bila terkait kondisi direfinery. Kecepatan keputusan akan mencegah kerugian atau bahaya bila situasi kilang tengah tidak normal. Itulah peran pimpinan terlatih atau dilatih melalui jenjang karier yang dibangun perusahaan.
Kualitas suatu keputusan, sangat dipengaruhi basis wawasan dan pengalaman serta pengetahuan teknis yang mengambil keputusan. Konsideran saat itu akan memenuhi kaidah yang baik bisa dan harus diikuti, karenanya memerlukan kematangan pimpinan tersebut.
Perkembangan teknologi terkini, Era Technology digital, sarana digital online, komputer, video dan alat bantu teknologi digital makin berkembang. Teknologi ini mungkin dapat membantu untuk pemantauan asset yang tengah beroperasi, menyederhanakan atau mengefektifkan pola kontrol. Mempermudah kegiatan analisa kondisi dan penerapan prosedur operasi tertentu. Bahkan bisa mengamankan secara otomatis bila diperlukan.
Tantangannya bagaimana memilih dengan teknologi terbarukan dengan tepat, cepat, aman untuk kilang dan memanfaatkan diikuti perawatannya jangka panjang.
Para leader dituntut senantiasa meng-update bila ada kemajuan untuk info teknologi diatas. Kajian aplikasi teknologi terbaru perlu diterapkan untuk memperbaiki kehandalan internal, mereduksi cost dan meningkatkan daya saing dalam era global.
Pada sisi anagement, perencanaan operasi, planning, eksekusi, implementasi dan reporting managemen kilang bisa lebih cepat dan tepat. Dibangun sistim yang makin ringkas, sederhana dibuatkan serba otomatis. Contohnya di bidang Reporting arus minyak versus rencana operasi dan status kehandalan / kesiapan operasi asset kilang.
Pengoperasian kilang memerlukan “dukungan kesiapan berbagai aspek managemen terkait” di internal refinery. Dukungan tersebut diantaranya meliputi
a. Apa itu Perencanaan Operasi?
Merupakan serangkaian kegiatan menyusun perencanaan bisnis untuk produksi kilang dengan memanfaatan sarana unit proses di Refinery agar beroperasi optimal. Hasil produk produk utama harus berkualitas sebanyak mungkin, secara efisien dari bahan baku yang sesuai dengan prioritas produk dan mendapatkan margin laba produksi yang optimum.
Kegiatan merangkaian aktifitas agar proses rencana produksi dengan rincian tata waktu bisa dilaksanakan semua pihak terkait. Direncanakan pasokkan bahan baku dari luar, penyaluran produk keluar kilang harus berjalan efektif, lancar sesuai rencana. Perencanaan yang baik, akan efektif bila selaras dengan kondisi kehandalan kilang yang baik. Perencanaan bisa mendorong fungsi terkait untuk mengoptimalkan kinerja unit kilang sesuai design atau lebih pada saat penyusunan rencana kerja tahuan dan perbaikkan via rapat koordinasi bulanan.
Aspek perencanaan juga disesuaikan dengan situasi pasar. Pemilihan bahan baku murah, produk diarahkan kepada pangsa pasar utama yang menghasilkan margin laba tertinggi dengan volume optimal dan pemenuhan kewajiban rutin terhadap pelanggan yang sudah tetap atau memenuhi komitmen perusahaan.
b. Kegiatan Perencanaan
Kegiatan Perencanaan untuk Operasi Manufacturing di Kilang memerlukan dukungan seluruh fungsi operasi di Kilang. Perencanaan tahunan atau bulanan disusun agar selaras dengan perencanaan induk yang disepakati dan ditetapkan perusahaan.
1). Identifikasi kondisi internal Refinery,
Evaluasi kesiapan kehandalan unit operasi – (kapasitas vs design, kemampuan konversi / yield unit operasi tertentu yang memiliki reaktor. Dievaluasi kesiapan infrastruktur tanki, dermaga dan lainnya. Dievaluasi sisa dan jenis stok crude dan sisa stock produk & intermedia yang tersedia di kilang) – evaluasi semua agar sesuai untuk perencanaan olah crude dan rencana produksi yang perlu dihasilkan tahunan dan bulanan .
2). Tetapkan Target produksi & pasar prioritas (komitment dan kebutuhan pasar) – Tahunan dan bulanan,
3). Identifikasi jenis dan jumlah tambahan crude yang diperlukan
4). Perkiraan harga pasar crude dan produk, kini dan kedepan
5). Evaluasi Situasi global tentang crude dan produk dunia
6). Kelola Software perhitungan cepat – simulasi pemilihan crude dan intermedia, dengan perpaduan informasi asumsi 5-6 item diatas.
7). Proses rencanaan pembelian / pengadaan crude dan bahan baku / intermedia yang diperlukan.
8). Pelaksanaan pemilihan via pasar – pembelian curde via tender, kerjasama longterm kontrak crude berbasis harga pasar (tender) dengan berbagai alternatif pembiayaan yang disepakati.
9). Mensimulasi dengan software optimasi – terhadap bahan baku crude pemasok yang ditawarkan vs kebutuhan tambahan Crude Refinery Nusantara – vs harga terbaik terima ditempat vs simulasi software output per refinery dan potensi profit terbaik yang dimungkinkan.
10). Rencana distribusi product ke marketing
11). Pengambilan keputusan atas i) dan j).
12). Tata waktu dan pemantauan bertahap
13). Evaluasi berkala untuk perbaikan paket rencana kegiatan berikutnya.
14). Identifikasi next opportunity. Dalam evaluasi, langkah m), diperlukan evaluasi terkait “new technology” dan “evaluasi global competitiveness” yang memungkin untuk perbaikan efisiensi dan memenangkan persaingan.
Semua variable diatas tersebut dapat berubah dengan cepat, sehingga factor ketidak pastian dapat menjadi bagian resiko pebisnis.
Dalam menyusun perencanaan, diperlukan alat bantu software komputer yang bisa melakukan simulasi optimasi perhitungan cepat.
Perencanaan yang baik, akan lebih mengarahkan pencapaian laba operasi optimal. Sebaliknya, perencanaan yang tidak baik – tidak sesuai dengan kondisi kilang sebenarnya dan tidak sinkron dengan kondisi pasar – bisa menjadi awal faktor kesulitan proses produksi dan menyulitkan mendapatkan laba usaha perusahaaan.
Tingkat kesulitan perolehan laba usaha selain dipengaruhi faktor internal Refinery juga sangat dipengaruhi situasi eksternal dunia bisnis perminyakkan.
Manuver arah produksi juga bisa berubah, tergantung situai internal (handicap) Unit Kilang atau kondisi ekternal (Kilang kompetitor atau potensi perubahan harga pasar).
Oleh karena itu perencanaan operasi perlu menjadi perhatian yang baik sampai diperolehnya ketersediaan bahan baku (crude) yang terbeli. Perlu diingat, crude pada dasarnya terbatas, sehingga mendapatkan crude yang baik berarti bersaing. Crude character akan berubah dari waktu kewaktu, sehingga secara berkala perlu dievaluasi ulang crude tersebut (Crude assay tersebut) mungkin 1 x per 3 sampai dengan 5 tahunan.
Persaingan bisnis antar pemilik refinery, sebenarnya berawal dari proses pemilihan Crude atau minyak mentah dan implementasi tatacara pengadaan crude. Pengadaan crude yang bisa flexible, pemilihan crude yang tepat, cerdas sesuai konfigurasi kilang agar optimal kapasitas dan pembelian cepat di tepat waktu dengan “harga yang baik” dalam pasar crude yang sangat terbatas dan berubah cepat, turut menentukan peluang laba atau sebaliknya ketidak telitian, kelambanan apalagi prosedure yang rumit akan menyebabkan profit margin opportunity loss bisa terjadi.
Dalam perencanaan pengetahuan eksternal refinery, diantaranya info situasi geopolitik global yang berpengaruh terhadap harga crude dan produk perlu dipantau.
Perlu juga dipantau adanya refinery pesaing, kondisinya atau kegiatan pemeliharaan refinery pesaing karena bisa memberi dampak terhadap harga dan ketersediaan crude maupun produk dipasaran. Kadang kala spot market harus dimanfaatkan bila memungkinkan dapat crude murah dan sesuai kebutuhan. Para perencana perlu terbiasa terbuka / sensitif terhadap kondisi eskternal tersebut.
Dalam hal pembinaan pekerja diperencanaan perlu mendapat orientasi kerja operasi kilang, pemahaman hambatan kapasitas dan konversi serta situasi kilang, pengetahuan laboratorium terkait crude assays dan product pengetahuan blending produk dan aplikasi software optimasi perencanaan dengan komputer, pengetahuan wawasan bisnis perminyakan untuk crude ataupun berbagai produk, dan lain sebagainya.

FCC “Unit Process Khusus” Catalytic Cracking Pertama yang dibangun – di Plaju Sumatera Selatan di era Zaman Belanda kemudian diambil alih Permina (saat ini disebut Pertamina).
Pada tahun 1990-1994 RCC dibangun di Balongan Indramayu Jawa Barat, Tahun 2011-2015 RFCC di Cilacap Jawa Tengah dan Tahun 2020-2026 RFCC Baru Balikpapan Kalimantan Timur.
Berlatih melalui Training bertahap guna ‘pemantapan kemampuan bekerja efektif’ pada setiap pekerja (Skill) dan ‘Kebisaan / Kebiiasaan Terlatih dengan Efektif dan Benar dari sisi teori dan terpakai Saat Bekerja’ (Kompetency) sesuai latar belakang ‘pengetahuan peralatan, proses dan skill” di unit kilang tempat mereka bekerja.
Sesuai lingkup tugasnya dikilang, maka Training dan dievaluasi kemampuan kerja (perorangan dan secara team work kelompok kerjanya). Bekali Pengetahuan Dasar yang diperlukan, Familiarisasi area kerja (Peralatan Unit Kilang) dan beri bekal serta diuji bertahap.
Pengujian perorangan maupun kerja beregu. Pengujian untuk memperbaiki kekuranagn yang bersangkutan. Pengujian tidak boleh jadi beban ybs.
Bahan Uji bisa melalui :
Melalui Q&A Prosedur SOP, Teori, Data Operasi Dan Data Design Peralatan Yang Perlu Dikenal, Teknis Kontrol Area Tugas dan Komunikasi Kerja yang diperlukan serta safety disetiap aktifitas dan lokasi kerja.
NOTE. Investasi Kilang itu Sangat Besar Dan Mahal. Gagal Operasi bisa merusak asset kilang.
Pelatihan Teori, Praktek secara perorangan dan beregu, secara detail sangat diperlukan.
Saat terakhir semua harus mampu mengatasi emergency Unit Kilang masing masing dan untuk Emergency besar / Kebakaran harus berlatih. Ikuti dan Pahami Prosedur Mengatasi Situasi Darurat dan Ikut simulasi untuk paham / siapa dalam Teknis Mengatasi Emergency Kilang secara Ovel all.
Berikut Materi Operasi Unit Khusus FCC / RCC / RFCC (Sementara Modul Tengah Dibangun / Disiapkan Terpisah)
Bila ada Unit Baru atau Project Baru, maka perlu organisasi baru.
Pada project baru yang cukup besar, diperlukan strategy dan upaya khusus, sejak dimulai dibangun pertama kali semua infrastruktur Kilang. Perlu dibuat Organisasi tempat manpower yang akan bertugas. Laksanakan rekruitment manpower yang akan dilatih, untuk bisa diberi tugas dan tanggung jawab.
Disiapkan tata kerja, sarana kerja, dan pilih para pekerja penggerak dipekerjaan tersebut. Pilih dan tetapkan pimpinan motor organisasi baru yang mampu melibatkan pekerja terkait dan lain sebagainya.
Persiapan dan bangun system management operasi yang bisa bergulir menjadi suatu proses bisnis yang diinginkan dan bergulir menjadi suatu loop kegiatan periodic dan rutin.
Agar rolling atau berjalan pada semua aktifitas, bangun kemampuan leader kelompok pengarah dan pengendali dan sebagai network system kendali dan system informasi.
Laksanakan training teori dan pelatihan – praktek nyata serta laksanakan serta siap uji. Pilih leader, bekali kemampuan yang diperlukan untuk memimpin sarana kilang yang kompleks, Bila adan atau tersedia diambil dari yang memiliki bakat dan berpengalaman khusus dari kilang lain kecuali kader terbatas.
Membangun awal kegiatan yang demikian merupakan seni management pelatihan tersendiri. Dalam mempersiapkan training bangun kemampuan manpower pekerja dengan sasaran kemampuan “Diatas Standard Minimum”. Yakinkan Standard knowledge dan skill teknis, sampai management secara team sesuai levelnya. Bagun Skill atau Pembiasaan Tugas Kilang dan bukan deliveri teori tapi praktek langsung“, khususnya membangun kemampuan para pengelolaan teknis kilang.
1. Membangun Team Secara Bertahap
Konsep Sederhana – “Leveling Basic Knowledge / Knowhow & Skill Competency Operasi Kilang”
OPERATION SKILL FOR TEAM CSU & TEAM WORK DEVELOPMENT ACADEMY OPERATOR NEW PROJECT
Merangkai proses bisnis merancang hasil pada tujuan akhir. Rancang rangkaian tahapan kegiatan persiapan sejak awal, dengan tata waktunya sampai ke tahap akhir menjadi “rangkai kegiatan untuk membangun proses bisnis” perlu ditindak lanjuti. Diperlukan instruktur terlatih untuk skill development yang demikian.
2. Paham dan Terlatih Untuk Tugas & Tanggung Jawab Serta Support Management
Refinery, dalam sistim management hydrocarbon proses di refinery, dinilai cukup komplek. Diperlukan kepastian kemampuan dan kebisaan (skill) serta kebiasaan bekerja operasi yang terlatih baik (Kompetensi).
Terbiasa untuk menjaga kondisi agar selalu tertib prosedur yang aman, dan terbiasa selalu waspada. Bekali pemahaman teknologi proses, pemahaman teknis peralatan, batasan design untuk operasi yang aman tidak merusak alat dan teknik lingkungan. Biasakan kerja tepat prosedur, tepat reporting dan terbiasa mempersiapkan bekerja teratur secara bersama sama.
Untuk itu perlu pelatihan pembiasaan dengan dukungan pelatihan kerja rutin pembentukan kebisaan dan kebiasaan kerja di Kilang Kilang Sejenis. Kemampuan kerja atau Skill / Kompetensi Operasi teknis dibangun untuk Unit Proses tempat mereka bekerja mendatang di project barunya. Pelatihan melalui peralatan dengan sarana Teknologi Unit Proses yang Sejenis dirempat lain.
Pemahaman juga terhadap adanya berbagai potensi bahaya bersifat emergency perlu cepat diatasi, serta tata cara mengatasinya. Belajar memahami adanya aspek lingkungan serta tatacara kendali dampak lingkungan dengan tata cara best praktis untuk menangani bila itu terjadi.
Pemaham atas prosedur – sistim tatakerja, pengelolaan dilengkapi dengan cheklist operasi sampai diyakini persiapan cukup matang dan terdokumentasi.
Antisipasi Emergency operasi dan kendali dampaknya. Bangun dan dipersiapkan untuk dikelola dengan baik, sebagai bagian kegiatan kontrol dan waspada rutin, mendukung dan sejalan dengan kesiapan unit refinery baru tersebut. Sebelum Kilang Project baru dijalankan, perlu dialkukan simulasi emergency dan tatacara mengatasi secara team work