Operasi Kilang BBM
‘KILANG BBM RNC’
Kilang BBM (Crude Oil Refinery) adalah Sarana Berbagai Unit Proses yang mengola Crude Oil untuk penghasil produk Bahan Bakan Minyak (BBM). Sebagian lagi produknya ada yang menjadi bahan baku kilang petrokimia, melalui unit proses lanjut tertentu. Kilang BBM RNC (Kilang Virtual RNC) – Adalah ‘kilang virtual” yang dipakai untuk bahan diskui berlatih dan diskusi berbasis cara kerja kilang sebenarnay atau serupa ditambah koleksi informasi pengalaman masa kerja dikilang BBM yang lalu.
Perkembangan teknologi terkini memungkinkan untuk memperoleh BBM dari bahan baku lain, seperti dari Kalapa Sawit, Hasil Gasifikasi Batubara, atau lain sebagainya. Faktor keekonomian proses produksi untuk bisa dan siap bersaing dipasaran menjadi penentu keekonomian untuk penerapannya. Proses perubahan struktur kimia Hydro Carbon umumnya dengan bantuan proses yang menggunakan bantuan katalis agar lebih terarah dan efektif pada kondisi reaktornya.
Kilang BBM, Sumber Bahan Baku nya Crude Oil, berasal dari berbagai minyak mentah – sumur bor minyak bumi dalan negeri dan mancanegara. Kandungan fraksi destilat dan “komposisi fraksi Oil” atau bahan kimia crude oil menjadi menentukan harga crude oil dalam bersaing dipasar dunia. Fraksi hydrokarbon (HC) rantai pendek sampai HC rantai panjang, Rantai lurus atau rantai lingkar (ring HC) berbeda disetiap crude, termasuk impurities / bahan pengotor bawaannya sehingga nilai keekonimian – nilai jual- menjadi berbeda beda.
Bilamana crude asli saat design CDU di suatu kilang mulai tidak tersedia lagi, maka crude (minyak mentah) pengganti mirip, sejenis dari sumber crude yang berbeda beda dibuatkan, melalui proses campur (blending) crude di kilang sendiri agar diperoleh campuran crude oil yang memiliki komposisi fraksi destilat mirip crude saat design CDU pertama dibangun.
Perbedaan kualitas kandungan dalam crude oil, diikuti pertumbuhan konsumen (refinery baru), menyebabkan harga crude berbeda dan berubah ubah bahkan naik. Persaingan harga crude, faktor ketersediaan crude dunia makin terbatas. Kondisi demikian menjadi tantangan bisnis crude dunia, dan juga bagi Refinery Nusantara agar tetap survive.
Salah Satu Solusinya, dibangun Unit Khusus perengkah fraksi tertentu dari kandungan crude yang bernilai ekonomi rendah agar diproses jadi bernilai ekonomi lebih tinggi pada unit khusus. CCR/Platforming, Hydrocracker, FCC / RFCC dan lainnya.
Crude
Berasal berbagai sumber (bawah tanah atau pun bawah laut) dibersihkan dari kadar 'garam, air, serta lumpur' ikutan. Dikilang di bersihkan di desalter sebelum masuk Crude Distilling Unit
Crude bersih ex Desalter masuk ke unit CDU untuk Proses lanjut.
CDU, berperan memisahkan fraksi (C1, C2 dan gas ikutan ringan lainnya), LPG (C3, C4), Light Naphtha dan heavy Naphtha, (Kerosene) komponen avtur, LGO/HGO komponen Solar, dan long residue. Pemisahkan fraksi hidrokarbon secara destilasi, memisahkan fraksi panjang rantai HC dan berat, berdasarkan perbedaan komposisi dari titik didih dan titik penguapan destilat pada pelat pelat (tray internal kolom). Pemisahkan fraksi destilasi pada tray tray bertingkat. Kilang umumnya dilengkapi berbagai unit proses lanjut. Berikut suatu contoh blok diagram interkoneksi antar unit proses disuatu Refinery.
Operasi Kilang vs Kendali Potensi Margin Laba Operasi
Sangat Tergantung Kepada
(a). Adanya Margin Laba Operasi Kilang (Hasil Jual Produk – Modal Operasi dengan cicilan investasi).
(b). Adanya Dukungan “6 Point Prasyarat Operasional Asset Kilang Yang Handal” dan Produktive, Sebagai Berikut ini:
-
-
- Utilities Kilang – Kehandalan Operasi dan Kestabilan Supply diseluruh Kilang (Kestabilan Masing Masing Tekanan, Temperatur, Jumlah Steam, supplai Utilities Water, Cooling Water, BFW, Suplai Udara Utilities – Jenis Udara Instrument, Nitrogen, dan Plant Air, Suplly. Kestabilan Supplai Tenaga Listrik, Fuel oil dan Fuel Gas) yang setiap saat yang diperlukan Unit Operasi Kilang. Kilang akan terganggu bila salah satu diantara ‘Sarana dan variable Operasi Ulities” tersebut tidak stabil.
- Peralatan Kilang – Kehandalan dan Kestabilan Peralatan Operasi Unit Unit Proses Jangka Panjang
- Suply Bahan Keperluan Operasi – Penyediaan Bahan Baku Operasi. Crude, Catalyst, Bahan Kimia, Fasilitas operasi harian yang tersedia tepat waktu serta Lifting Produk jadi secara terencana dan pelaksanaan yang baik.
- Perawatan Rutin bergantian Saat Operasi didukung Ketersedian Spare parts dan maintenance rutin di luar Perawatan TA berkala.
- Keamanan dan Safety Area dan Peralatan Kilang , semua fasilitas kilang yang terpantau baik dan terkendali, dirawat kesiapannya untuk aman dan siap pakai setiap saat. Siap di audit dadakan setiap saat. Pekerjapun semua berlatih, terlatih siap “In Case Of Emergency” secara unit masing masing ataupun secara over all refinery oleh Team Management Unit ataupun pusat. (Siap Uji)
- Kemampuan Pengelolaan Kilang Oleh Manpower yang tersedia. Aspek Pola Management, Skill dan Kompetensi, Team Work manpower sesuai tugas jabatan yang diperlukan. Apakah sudah terlatih baik dengan bekal pengalaman yang cukup, menjadi taruhan citra keberhasilan operasi untuk Asset KIlang yang padat modal dan penuh resiko tersebut.
- Dukungan Eksternal dari berbagai sektor. Vendor, supplier, outsource manpower, network sesama kilang sejenis, dukungan process licensor dan para ahli terkait infrastruktur peralatan kilang yang dibangun sebagainya, sebagai bahagian be to be antar perusahaan.
-
CDU (PRIMARY PROCESS) & DOWNSTREAM UNIT
Sebelum CDU, ada desalter.
- Di Downstream CDU ada unit pengolah dan pembersih lain. Perannya untuk membersihkan kandungan kimia pengotor dalam fraksi hidrokarbon (seperti bau, warna, atau yang bisa merusak katalis / mesin konstruksi). Ini umumnya di Down stream CDU, melalui Unit proses treating dengan bahan kimia tertentu dan atau hydro treating (memerlukan gas hydrogen) dan kadang ada unit perengkahan yang merubah hidrokarbon menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi dalam rangkaian peralatan Kilang.
- Proses Treating setelah CDU membersihkan secara proses kimia (chemical treatment) dengan bantuan katalis dan / atau chemical pada kondisi panas dan bertekanan tertentu. Pembersihan kandungan sulfur (Sulfur treating), pemisahan Nitrogen content, bantuan hydrotreating dan merubahan struktur ikatan kimia lain yang memerlu panas dan katalis bahkan ada yang membutuhkan hydrogen bertekanan tinggi untuk proses reaksinya.
- Peran Unit Proses Treating intinya untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisika (bau, warna, korosifitas, dll), memperbaiki oktan number bagi fraksi naphtha, atau cetan number bagi fraksi solar dan sebagainya sesuai tujuan penggunaan akhir produk fraksi yang berasal dari minyak bumi tersebut.
- Rangkaian peralatan dibuat dengan rancangan dan konfigurasi unit proses sedemikian rupa, untuk menghasilkan produk produknya secara optimal dari bahan baku yang direncakanan.Rangkaian Unit Proses. Rangkaian unit proses kilang, disesuaikan terhadap jenis & kandungan crude saat design, serta dilengkapi unit berikutnya untuk tujuan memproduksi produk setelahnya yang beda beda pada setiap refinery. Salah satu contoh, seperti pada flow scheme process diagram diatas.
- Produk CDU, yang dihasilkan berupa gas (C1, C2 dan gas ikutan ringan lainnya), LPG (C3, C4), Light Naphtha dan heavy Naphtha komponen Premium, (Kerosene) komponen avtur, LGO/HGO komponen Solar, dan long residue.
- Vacum Unit Destilasi – Unit Pengolah Minyak Residue – Secara Destilasi bertekanan rendah (vakum, dibawah tekanan tasmopheric tertentu). Ada kalanya Refinery dilengkapi Unit Destilasi Vacum untuk proses destilasi lanjut long residu. Kondisi vakum agar suhu saat destilasi lebih rendah dari titik rengkah hydrokarbon tersebut.
- Produk Komponen Minyak Residu, dengan destilasi tekanan rendah / vacum – (agar suhu tidak terlalu tinggi – mencegah perengkahan hidrokarbon) – dihasilkan disebut LVGO atau Light Vacum Gas Oil, Heavy Vacum Gas Oil atau HVGO, Short residue / aspalt dll untuk proses lanjut unit lainnya bila masih ekonomis.
- Pemilihan Unit dan Peralatan Unit Proses. Semua ditentukan oleh jenis hydrocarbon yang terkandung dalam bahan baku minyak bumi atau type crude oil bahan baku tersebut. Semua crude oil memiliki fraksi kandungan hidrokarbon yang berbeda beda seperti kandungan parafinis, nahthenic, ariomatics berbeda beda tinggi rendah atau jumlah komposisi masing masing dalam crude oil tersebut, serat lengkap dengan impurities ikutan yang berbeda pula untuk penetu proses treating selanjutnya.
- Unit Proses Lanjutan (Setelah CDU) – Secondary Processing Unit. Unit berikutnya untuk memperbaiki produk di downstream dari CDU, dipilih alternatif berbagai unit proses yang sesuai type hydrocarbon beserta impuritiesnya dan arah jenis produk yang dikehendaki. Tahap ini bukan lagi secara destilasi karena telah memerlukan perubahan struktur kimia hidrikarbo. Biasanya dinamai Scondary Processing Unit. Pada tahap ini diperlukan bantuan katalis, panas saat konversi, bahan kimia lainnya seperti hidrogen dengan kemurnian tertentu dengan hydrogen Palnt nya atau PSA Unit pemurni H2 atau kombinasi proses fisis dan proses kimia secara bersamaan. Diantaranya FCC/ RFCC / RCC, Hydrocracker Unit / UNICRACKER atau sejenisnya, atau unit Treating sampai ke Unit merubah bentuk hidrokarbon berikutnya seperti unit petrokimia. Semua itu dilakukan pemilihan unit proses untuk ditetapkan, dimulai sejak tahap design pemilihan unit proses awal untuk menetapkan konfigurasi unit proses di refinery.
- Pemilihan berdasarkan kandungan jenis crude (Hydrocarbon dan impurities) yang diolah, dipilih unit pretreating crude oils, kemudian jenis unit proses pengolahannya (CDU, dengan atau tanpa HVU) serta unit downstream untuk unit konversi, perbaikkan produk yang dikehendaki. Semua dipilih berdasarkan keputusan keekonomian produk versus investasi jangka panjang bisnis refinery.
Umumnya Sarana unit proses yang ada dalam suatu refinery antara lain:
- Penyaluran Pasok Bahan baku minyak: Pipa dan metering dengan atau tanpa dermaga kapal untuk pasokkan crude masuk ke crude oil tanks farm dan untuk distribusi penyaluran produknya ke kapal angkut
- Tank Farm crude fasilities, lengkap dengan metering. Tank Farm intermediate produk dan produk akhir beserta pipa dan metering distribusinya.
- Sarana Proses: Feed treating berupa blending crude, desalter, CDU atau Crude Distiling Unit, dengan atau tanpa Vacum Destilasi, untuk Memilah fraksi hidrokarbon crude oil berdasarkan titik didih. Pemilihan berdasarkan type crude dan kebutuhan produk yang akan diutamakan.
- Product recovery dan treating untuk Offgas (untuk bahan bakar Kilang, H2 Plant, Sulfur Plant dll), Nahtha Recovery, Konversi dan Treating (dapat berupa Hydrotreating dan Plat forming, Kilang Petrokimia dll), Kerosene recovery dan treating (untuk avtur), Solar, IDO dan HDO, IDF dll.
- Unit Proses untuk Heavy oil dan Recovery Komponen tertentunya, atau Long Residue Unit Convertion dan Unit Treating, diantaranya (RFCC/RCC, Lube Oil Plant / ARHDM / Hydrocracker / Aspalt Plant dll.) disesuaikan dengan crude dan keekonomian yang dipilih saat design awal. Semua pemilihan Jenis unit proses disesuaikan dengan kebutuhan dan type hidrokarbon dari crude oil serta jenis product yang ingin dihasilkan ditahap design kilang.
- Perkembangan Katalis. dewasa ini makin berkembang, “teknologi katalis” yang semakin maju, sehingga unit konvesipun bisa mengalami perubahan “hasil konversi” komposisi produk, seperti mengarahkan optimalisasi salah satu jenis produk dan menekan produk yang tidak dikehendaki, sambil memperbanyak produk tertentu. Perubahan sedemikian besar, tidak dapat mengharuskan perubahan atau justru mengharuskan modifikasi unit proses di downstreamnya untuk merecovery lebihefektif dan efisien produk utama yang diinginkan
Khusus unit process konversi
-
- Process Licensor dari suatu Unit Process tertentu dengan masukkan tentang feed dari pemilik crude (pemilik kilang) dan masukkan aspek teknologi katalis vendor katalis melakukan riset, merancang unit proses dan mencari / menentukan variable kondisi operasi optimal dengan feed tertentu untuk menghasilkan produk optimal yang dikehendaki. Jika sangat khusus, akan membuat pilot unit khusus dengan rancangan awal untuk guna merencanakan rancangan equipment prosesnya. Berdasarkan hasil tersebut, percaya bahwa dapat dimulai dirancang equipment proses yang layak untuk pembangunan unit proses dalam skala industri.
-
- Design senantiasa diperbaiki berdasarkan aktual data operasi dari unit kilang yang sudah beroperasi lisensi yang mereka miliki. Semakin banyak pengalaman suatu vendor / licencor proses semakin baik kehandalan design unit tersebut.
-
- Para designer peralatan menetapkan design berdasarkan gambar dan spesifikasi dari licencor dan / atau kontraktor engineering pemesan yang berpengalaman.
-
- Kondisi operasi, beserta data pengalaman menjadi acuan design alat dengan kondisi operasi prosesnya, tertu dengan teknis perancangan yang sesuai standard yang diimprove berdasarkan masukan para pengguna (licencor dan konktraktor atau para refiner).
- Yang mengoperasikan ==> harus mengenal batasan design peralatan (suhu, tekanan, beban maksium) yang harus dijaga, tidak boleh dilewati saat operasi agar peralatan kilang handal dan aman untuk mampu dioperasikan jangka panjang.
Kendali Operasi ~ Kendalikan Potensi Margin Laba Operasi
I. Introduction
Operasi Kilang versi RNC – merupakan ‘kegiatan rutin, teratur’ setiap kilang, berkesinambungan 7×24 jam perminggu, berlangsung bulanan bahkan tahunan. Kegiatan disesuaikan perencanaan operasi kilang guna memenuhi kebutuhan pasar dan pola perioda perawatan kilang terbaik yang ditetapkan.
Perusahaan umumnya memiliki visi, misi dan tujuan untuk memberi arah dalam mengelola sumberdaya perusahaan (Internal & eksternal)
Pelaksanaan dibentuk oleh sistim management. Ciri management efektif, memiliki visi, misi, tujuan perencanaan, jangka tertentu untuk arah atau objective yang hendak dicapai dan anggaran telah disiapkan.
Para manager terlibat sesuai fungsi tugas jabatan masing masing. Seua berperan membantu efektifitas dan efisiensi untuk tujuan yang ditetapkan perusahaan. Keberhasilan dinilai dari kualitas hasil yang baik, tepat waktu, tepat kualitas, sesuai anggaran secara efisien. Kegiatan berkesinambungan dan diusahaka tercipta suasana kondusif di dalam maupun di lingkungan luar perusahaan.
II. Operation & Manufacturing
Kegiatan ‘Management Operation & Manufacturing Refinery’ merupakan Kegiatan managemen pengelolaan kilang secara terpadu lintas fungsi untuk kelansungan operasi berkesinambungan.
Mengatur semua sumberdaya dalam sistim organisasi kilang – (manpower, infrastruktur asset management). Dikelola sesuai rencana operasi & manufactuirng activities di kilang.
Target utamanya agar kegiatan produksi arus minyak perusahaan, dikelola agar berkesinambungan, lancar, aman, handal, efektif, efisien atau lebih baik.
Pengelolaan sistimatis, teratur dengan system tata kerja, tata waktu, pola management operasional yang jelas, tegas, mudah dipahami. Dijalankan semua pekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing masing, dipimpin dengan kendali dan peraturan yang jelas.
Semua kegiatan terukur, dipertanggung jawabkan, diaudit dan dibahas bersama agar hasil kinerja berkala, dan keberlangsungan operasi kilang baik.
Penerapan disiplin Safety Operasi Kilang, menerapkan pola maintenance dan management lingkungan dijaga baik. Ketaatan terhadap peraturan pemerintah untuk peralatan dan keselamatan / safety publik disekitar kilang dikelola secara disiplin dan ketat.
Membangun sistim kegiatan yang bisa teratur tersebut untuk pertama kali menjadi tantangan pada organisasi baru yang dibangun.
2.1. Ruang Lingkup
Aspek Management yang dibahas hanya dibatasi pada aspek teknis kegiatan operasi di refinery. Artinya akan lebih banyak mengarah kepada pembahasan kegiatan operasi kilang dan seperti keputusan teknis prioritas pengelolaan unit tertentu saja.
Dikilang, bila ada suatu keputusan untuk “situasi tertentu” perlu dipertimbangkan dan diputuskan dengan cepat tapi seksama, khususnya bila terkait kondisi direfinery. Kecepatan keputusan akan mencegah kerugian atau bahaya bila situasi kilang tengah tidak normal. Itulah peran pimpinan terlatih atau dilatih melalui jenjang karier yang dibangun perusahaan.
Kualitas suatu keputusan, sangat dipengaruhi basis wawasan dan pengalaman serta pengetahuan teknis yang mengambil keputusan. Konsideran saat itu akan memenuhi kaidah yang baik bisa dan harus diikuti, karenanya memerlukan kematangan pimpinan tersebut.
Perkembangan teknologi terkini, Era Technology digital, sarana digital online, komputer, video dan alat bantu teknologi digital makin berkembang. Teknologi ini mungkin dapat membantu untuk pemantauan asset yang tengah beroperasi, menyederhanakan atau mengefektifkan pola kontrol. Mempermudah kegiatan analisa kondisi dan penerapan prosedur operasi tertentu. Bahkan bisa mengamankan secara otomatis bila diperlukan.
Tantangannya bagaimana memilih dengan teknologi terbarukan dengan tepat, cepat, aman untuk kilang dan memanfaatkan diikuti perawatannya jangka panjang.
Para leader dituntut senantiasa meng-update bila ada kemajuan untuk info teknologi diatas. Kajian aplikasi teknologi terbaru perlu diterapkan untuk memperbaiki kehandalan internal, mereduksi cost dan meningkatkan daya saing dalam era global.
Pada sisi anagement, perencanaan operasi, planning, eksekusi, implementasi dan reporting managemen kilang bisa lebih cepat dan tepat. Dibangun sistim yang makin ringkas, sederhana dibuatkan serba otomatis. Contohnya di bidang Reporting arus minyak versus rencana operasi dan status kehandalan / kesiapan operasi asset kilang.
2.2. Management Operasi
Pengoperasian kilang memerlukan “dukungan kesiapan berbagai aspek managemen terkait” di internal refinery. Dukungan tersebut diantaranya meliputi
-
- Perencanaan operasiyang baik (terkait hydrokarbon feed atau crude, bahan baku pendukung sampai dengan penyaluran produknya),
- Pemeliharaan dan kehandalan peralatan (Management reliability peralatan agar siap selalu dioperasikan. Perawatan yang baik dan kehandalan sarana proses kilang),
- Kesiapan Manpower Operasi untuk meyakinkan kesiapan engoperasikan secara handal. Meliputi management team operasi, kesiapan knowledge dan skill, cukup jumlah, kerja sama yang baik dan aplikasi prosedur yang konsisten)
- Pengendalian Kualitasyang diproses dukungan oleh team dan sarana laboratorium
- Management Operasi Arus Minyakbahan baku, intermedia dan produk serta
- HSSE, kesiapan Health, Safety, Security & Environmental refinery.
2.3. Tim Pelaksana, minimal diperlukan:
-
-
- Team Perencanaan Operasi – Feed dan Penyaluran Product
- Team Operasi – Pelaksana per Area Unit Kilang
- Team Supporting – Laboratorium
- Team Supporting Material Operasi Non Feed dan TransportasiTeam
- Team Pemeliharaan
- Team Pendukung – HSSE
- Team Supporting – Pelatihan
- Team Supporting Reporting System dan IT System
-
III. Pembahasan:
a. Apa itu Perencanaan Operasi?
Merupakan serangkaian kegiatan menyusun perencanaan bisnis untuk produksi kilang dengan memanfaatan sarana unit proses di Refinery agar beroperasi optimal. Hasil produk produk utama harus berkualitas sebanyak mungkin, secara efisien dari bahan baku yang sesuai dengan prioritas produk dan mendapatkan margin laba produksi yang optimum.
Kegiatan merangkaian aktifitas agar proses rencana produksi dengan rincian tata waktu bisa dilaksanakan semua pihak terkait. Direncanakan pasokkan bahan baku dari luar, penyaluran produk keluar kilang harus berjalan efektif, lancar sesuai rencana. Perencanaan yang baik, akan efektif bila selaras dengan kondisi kehandalan kilang yang baik. Perencanaan bisa mendorong fungsi terkait untuk mengoptimalkan kinerja unit kilang sesuai design atau lebih pada saat penyusunan rencana kerja tahuan dan perbaikkan via rapat koordinasi bulanan.
Aspek perencanaan juga disesuaikan dengan situasi pasar. Pemilihan bahan baku murah, produk diarahkan kepada pangsa pasar utama yang menghasilkan margin laba tertinggi dengan volume optimal dan pemenuhan kewajiban rutin terhadap pelanggan yang sudah tetap atau memenuhi komitmen perusahaan.
b. Kegiatan Perencanaan
Kegiatan Perencanaan untuk Operasi Manufacturing di Kilang memerlukan dukungan seluruh fungsi operasi di Kilang. Perencanaan tahunan atau bulanan disusun agar selaras dengan perencanaan induk yang disepakati dan ditetapkan perusahaan.
1). Identifikasi kondisi internal Refinery,
Evaluasi kesiapan kehandalan unit operasi – (kapasitas vs design, kemampuan konversi / yield unit operasi tertentu yang memiliki reaktor. Dievaluasi kesiapan infrastruktur tanki, dermaga dan lainnya. Dievaluasi sisa dan jenis stok crude dan sisa stock produk & intermedia yang tersedia di kilang) – evaluasi semua agar sesuai untuk perencanaan olah crude dan rencana produksi yang perlu dihasilkan tahunan dan bulanan .
2). Tetapkan Target produksi & pasar prioritas (komitment dan kebutuhan pasar) – Tahunan dan bulanan,
3). Identifikasi jenis dan jumlah tambahan crude yang diperlukan
4). Perkiraan harga pasar crude dan produk, kini dan kedepan
5). Evaluasi Situasi global tentang crude dan produk dunia
6). Kelola Software perhitungan cepat – simulasi pemilihan crude dan intermedia, dengan perpaduan informasi asumsi 5-6 item diatas.
7). Proses rencanaan pembelian / pengadaan crude dan bahan baku / intermedia yang diperlukan.
8). Pelaksanaan pemilihan via pasar – pembelian curde via tender, kerjasama longterm kontrak crude berbasis harga pasar (tender) dengan berbagai alternatif pembiayaan yang disepakati.
9). Mensimulasi dengan software optimasi – terhadap bahan baku crude pemasok yang ditawarkan vs kebutuhan tambahan Crude Refinery Nusantara – vs harga terbaik terima ditempat vs simulasi software output per refinery dan potensi profit terbaik yang dimungkinkan.
10). Rencana distribusi product ke marketing
11). Pengambilan keputusan atas i) dan j).
12). Tata waktu dan pemantauan bertahap
13). Evaluasi berkala untuk perbaikan paket rencana kegiatan berikutnya.
14). Identifikasi next opportunity. Dalam evaluasi, langkah m), diperlukan evaluasi terkait “new technology” dan “evaluasi global competitiveness” yang memungkin untuk perbaikan efisiensi dan memenangkan persaingan.
Semua variable diatas tersebut dapat berubah dengan cepat, sehingga factor ketidak pastian dapat menjadi bagian resiko pebisnis.
Dalam menyusun perencanaan, diperlukan alat bantu software komputer yang bisa melakukan simulasi optimasi perhitungan cepat.
Perencanaan yang baik, akan lebih mengarahkan pencapaian laba operasi optimal. Sebaliknya, perencanaan yang tidak baik – tidak sesuai dengan kondisi kilang sebenarnya dan tidak sinkron dengan kondisi pasar – bisa menjadi awal faktor kesulitan proses produksi dan menyulitkan mendapatkan laba usaha perusahaaan.
Tingkat kesulitan perolehan laba usaha selain dipengaruhi faktor internal Refinery juga sangat dipengaruhi situasi eksternal dunia bisnis perminyakkan.
Manuver arah produksi juga bisa berubah, tergantung situai internal (handicap) Unit Kilang atau kondisi ekternal (Kilang kompetitor atau potensi perubahan harga pasar).
Oleh karena itu perencanaan operasi perlu menjadi perhatian yang baik sampai diperolehnya ketersediaan bahan baku (crude) yang terbeli. Perlu diingat, crude pada dasarnya terbatas, sehingga mendapatkan crude yang baik berarti bersaing. Crude character akan berubah dari waktu kewaktu, sehingga secara berkala perlu dievaluasi ulang crude tersebut (Crude assay tersebut) mungkin 1 x per 3 sampai dengan 5 tahunan.
Persaingan bisnis antar pemilik refinery, sebenarnya berawal dari proses pemilihan Crude atau minyak mentah dan implementasi tatacara pengadaan crude. Pengadaan crude yang bisa flexible, pemilihan crude yang tepat, cerdas sesuai konfigurasi kilang agar optimal kapasitas dan pembelian cepat di tepat waktu dengan “harga yang baik” dalam pasar crude yang sangat terbatas dan berubah cepat, turut menentukan peluang laba atau sebaliknya ketidak telitian, kelambanan apalagi prosedure yang rumit akan menyebabkan profit margin opportunity loss bisa terjadi.
Dalam perencanaan pengetahuan eksternal refinery, diantaranya info situasi geopolitik global yang berpengaruh terhadap harga crude dan produk perlu dipantau.
Perlu juga dipantau adanya refinery pesaing, kondisinya atau kegiatan pemeliharaan refinery pesaing karena bisa memberi dampak terhadap harga dan ketersediaan crude maupun produk dipasaran. Kadang kala spot market harus dimanfaatkan bila memungkinkan dapat crude murah dan sesuai kebutuhan. Para perencana perlu terbiasa terbuka / sensitif terhadap kondisi eskternal tersebut.
Dalam hal pembinaan pekerja diperencanaan perlu mendapat orientasi kerja operasi kilang, pemahaman hambatan kapasitas dan konversi serta situasi kilang, pengetahuan laboratorium terkait crude assays dan product pengetahuan blending produk dan aplikasi software optimasi perencanaan dengan komputer, pengetahuan wawasan bisnis perminyakan untuk crude ataupun berbagai produk, dan lain sebagainya.
