Persiapan Start Up Refinery Baru

Menjalan suatu kilang baru, peralatan baru oleh tim baru (bila berjumlah besar, mungkin lebih 50% pekerja baru) dan belum kenal kharakter operasinya, memerlukan “perencanaan, persiapan dan pelatihan yang baik, teliti, detail dengan penuh kehati hatian”.

Kemampuan operasi perorangan, kelompok, beregu dan per Unit atau Bagian perlu dilakukan persiapan yang betul betul baik, dibangun sampai skill dan kompetensi operasi secara tim siap dan dilakukan assessment secara cermat dan teliti – dinilai oleh senior teknisi engineer dan operasi – untuk mengukur dan meyakinkan kesiapan tim operasi baru tersebut.

Hal demikian sangat penting mencegah kegagalan operasi atas asset investasi yag mahal. Kegagalan demikian sering terjadi diawal startup kilang baru.

Menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin mengukur hasil kerja konstruksi kontraktor dan vendor peralatan baru serta bagaimana melaksanakan proses finalisasi kontrak project (demo kapasitas dan porformance test awal), bila tim commissioning dan startup masih belum matang dan disibukkan oleh kegagalan dan perbaikkan tata cara operasi karena belum mahir.

Kegagalan awal demikian dikenal sebagai Kegagalan Dini pada Bath Curve. 

Kegagalan Dini Operasi

Mencegah frekwuensi gagal operasi karena factor kurangnya pelatihan hanya bisa diminimasi melalui tata cara membangun kesiapan tim startup dari basic knowledge process, Unit process Technology, data parameter design for operational concern, soft skill nad hard skill development pada unit sejenis agar tidakasing untuk  mengoperasikan kilang baru tempat tugas sejenisnya. Kalaupun ada Simulator DCS, itu membantu memahami soft skill operasi, belum sampai tahapan realy operation skill di area field.

balik keatas

Susun rencana pelatihan, pembekalan, bangun basic knowldege, softskill & hardskill operasi dengan cermat dengan methoda yang tepat, magang, presentasi serta uji pemahaman,  laksanakan sampai dengan para pekerja betul betul siap untuk tugas commissioning, startup serta operasi kilang barunya.

Setelah lolos assessent, tugas tim baru siap untuk orientasi lapangan, memulai persiapan pre-commissioning, commissioning, startup, operasi, kendali safety operasi kilang dan kendali aspek lingkungan, pengatur arus minyak bahan baku s/d produk, menyiapkan rencana dan keperluan harian operasi serta didukung tim.

Diawali dengan memilih pekerja berpengalaman yang dinilai cukup memiliki kompetensi yang diperlukan atau didampingi disaat awal, maka tugas berikut telah menunggu, diantaranya :

I: Tahap Persiapan (Jauh sebelum Start-up)

  1. Merancang rencana kerja, dengan tata waktu yang harus sinkron paralel dengan kegiatan konstruksi, serta harus tuntas 6 bulan sebelum commissioning dan start-up. Sebelu ewaktu tersebut ikut training (part-tie) atau memantau training agar jelas SOW kekhususan setiap unit dipahami dan mengenal tim calon timnya yang turut serta training. Sekaligus menjalin kedekatan dengan calon anggotanya.
  2. Penyusunan SOW (scope of work) kegiatan saat menjelang pre-commissioning, commissioning,  start-up, dan operasi untuk disosialisasikan kepada pihak pelaksana start up dan kepada seluruh tim penunjang kegiatan operasi kilang agar siap secara bersamaan (yaitu Tim Operasi, mekanikal, instrumentasi, laboratorium, terminal, perencanaan operasi bahan baku s/d produk, aspek potensi terkait safety dan lingkungan serta suporting proses termasuk sisi keenjiniringan project baru tersebut)
  3. Turut Mempersiapkan man power yang diantaranya meliputi
    • pemilihan orang, jumlah dengan kompetensi dan skill yang sesuai,
    • pembuatan materi kegiatan start-up tiap alat dan unit untuk pelatihan dan pelaksanaan start-up,
    • Pelatihan teori, praktek di kilang sejenis, bila tersedia memanfaatkan simulator  dan
    • magang di kilang sejenis dengan tugas khusus selama pelatihan, serta evaluasi kesiapan tim. 

balik keatas

  1. Ingat: Jangan semata hanya tergantung kepada simulator Unit Operasi Kilang. 
  2. Simulator hanya membantu "mempersatukan pemahaman  terpadu" tentang proses, variable operasi, peralatan dan fungsinya serta batasan operasi normal, alarm dan trip. 
    
    Namun simulator masih sangat tidak cukup bagi pekerja baru, yang akan mengoperasikan langsung, karena setiap unit proses dan alat khusus prosesnya memiliki karakteristirk yang harus dikenali melalui praktek. Lama praktek pelatihan sangat berhubungan dengan tingkat kompleksitas unit proses tersebut. Apalagi bila system unit tersebut secara manual support saat start-up "membutuhkan tim work yang besar dan terkoordinir baik" untuk awal mengoperasikannya.
    
    Bagi pekerja setempat (yang telah praktek / bertugas harian dikilang tersebut), maka simulator akan sangat bermanfaat, khususnya untuk menjaga tingkat kecekatan / keterampilan operasi rutin, atau start-up dan shutdown yang jarang dilakukan atau bahkan pelatihan menangani emergency yang jarang terjadi, namun kesiagaan harus direfresh. Tentu cara terbaik via pemanfaatan simulator, dan tidak harus ada emergency yang sebenarnya.

4. Pelaksanaan Pelatihan. Para pekerja baru diberi teori basic proses dan peralatan, didiskusi, pelatihan dengan simulator dan praktek di kilang sejenis dengan tata waktu dan persiapan materi yang tepat.

5. Penugasan di kilang baru. Tim ditugaskan di kilang barunya 6-5 bulan sebelum kilang tersebut dioperasikan untuk turut memeriksa, familiarisasi detail alat, membantu kesiapan start up dan setup detail dokument untuk kesiapan dioperasikan. Persiapan utamanya memerluka sekitar 50% kelompok senior dari tim start-up tersebut aktif dilapangan.

PS: Jangan lupa persiapan paket pelatihan simulasi bila terjadi berbagai gangguan sarana utilitie ,seperti gangguan pasukan steam, gannguan pasokan udara instrumen,  power plant shut down / black out,  kebakaran dll sebelum start-up.

IITahap Pelaksanaan (Menjelang Fase Commissioning Kilang)

  1. Menjelang commisioning,
    Set –up kelompok kerja dan Tugas / job description start-up s/d normal operasi, Penyebaran penempatan dengan task khususnya bila sedang start-up. Untuk itu kerja sama, team work yang solid dibangun dan menjadi terbiasa.
  2. Koordinasi Lintas Fungsi dimulai, antara lain: Tim Operasi, Tim arus minyak, Tim Pemeliharan, Tim Engineering, Tim HSE, Tim Laboratorium dan dukungan tim project lainnya, harus dijalankan, dievaluasi system berjalan efektif sejak awal.Jadi oerganisasipun mengalami proses start-up.
  3. Saat menjelang start up, semua outstanding konstruksi harus sudah diputuskan harus disiapkan, agar jelas aspek legalitas awal operasi.  Persiapan scope of work pemeriksaan kesiapan project untuk dioperasikan by team operasi (SOW mechanical, instrumentasi, proses, laboratorium penunjang, safety dan lingkungan)
  4. Recheck dan Validasi. Persiapan dokumen start-up guidance,  check list sesuai detail, per peralatan secara parsial dan global  total equipment test, meliputi: untuk pemeriksaan masing alat, line up, check-list / punch list readyness vs perbaikan dan pengetesan readiness / cleaning procedure sampai zero punch list item.
  5. Persiapkan untuk Commissioning Peralatan. Fase ini adakalanya disebut pre-commissioning period. Semua alat harus dibersihkan sesuai prosedur yang berlaku. Ada peralatan yang perlu diikuti prosedur khusus vendor, ada yang menggunakan acuan best praktis operasi, namun pelaksanaan harus direncanakan “kriteria media pembersihnya, tekanan dan kandungan materialnya, tingkat kebersihan dan dampaknya, serta mempertimbangkan kesesuaian dengan alat lain agar tidak malah merusak. Intrumentasi ditest, Trip system, safety device perlu pengujian.  Rotating Equipment seharusnya sudah ditest run di workshop fabricator, di Kilang bukan buat uji peralatan yang sedang coba running pertama naun sebagai Test ulang.  Di kilang semua persyaratan yang sudah siap karena direncanakan dengan baik. Test dikilang sebagai rechech ulang bahwa saat instalasi di site tidak ada yang rusak atau salah, itupun sangat terbatas, sebatas pengujian kesempurnaan pemasangan system terkait.

Startup. Start-up hanya dimulai bila tidak ada keraguan, baik aspek teknis, kesiapan personil, kelengkapan dan kesiapan prosedur dan administrasi perizinan, pemahaman akan prosedur emergency, simulasi prosedur emergency telah dilakukan dan disemua hal lainnya,  termasuk aspek  legalitas kontrak harus  serba jelas dan tidak ada keraguan.

Citra Keberhasilan royek Baru. Kegiatan sukses strat-up dan operasi normal sangat penting karena disaat start-up menghendaki semua pihak harus fokus, sinkron dengan tugas masing masing kegiatan arus minyak (unit upstream dan downstream kilang baru serta market), mendukung start-up yang untuk pertama kali dan keberhasilannya jadi bukti bahwa kilang baru, dengan karakter unit masih asing, belum dikenal secara khusus, bisa dioperasikan secara aman. Proyek Baru bisa dinilai berhasil bila startup dan operasi berjalan lancar.

Satu keteledoran, akan menyebabkan mundur, dan biaya tinggi. Bagi Kilang yang besar, aspek pasokkan bahan baku,  dan komitment supplai produk ke pasar juga harus dipenuhi karena itu disiapkan sejalan dengan jadwal pembangunan penyelesaian kilang.

balik keatas

Syo.