Tantangan Efisiensi BBM Subsidi

Negara Indonesia yang tengah tumbuh dengan percepatan ekonomi relatif tinggi diperkirakan + 6.4% atau lebih, tentu akan membutuhkan enersi makin besar dengan pertumbuhan konsumsi pada persentase yang cukup tinggi pula. Dewasa ini, Refinery Nusantara walau beroperasi dengan kapasitas penuh, tetap akan kurang dibanding kebutuhan Nusantara. Artinya ketergantungan terhadap import akan makin besar. Jika saja ditambah kapasitas kilang baru 200-300 Ribu bbl/hari, tentu akan dikejar oleh kebutuhan konsumsi yang tengah tumbuh. Pertanyaannya apa pertumbuhan itu salah?, tentu tidak, tapi pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya menumbuhkan pola konsumtif BBM, apalagi BBM subsidi untuk penggunaan pribadi, jika itu bisa dihemat tanpa menghambat ruang gerak perorangan.

Pertanyaannya, bagaimana cara penghematan yang perlu dilakukan? Adakah prioritas alternatif yang dapat dibuat, agar kalaupun pertumbuhan ekonomi naik, tapi harus diikuti konsumsi perorangan dibidang enersi. Idealnya, penggunaan BBM lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pertumbuhan ekonomi, yang nantinya menambaha kesejahteraan masyarakatnya dan bukan dipakai oleh perorangan atau menumbuhkan pola konsumtif yang tidak patut. Bagai mana caranya?

Bila dilakukan study banding kenegara tetangga, sebetulnya banyak contoh. Namun bagaimana menyimpulkannya atau link suastu konsep terhadap konsep lainnya yang bermuara pada penghematan enersi tanpa menghambat pertumbuhan enersi. Mari kita lihat beberapa contoh dari negara tetangga dari sudut pandang yang berbeda.

  • Konsep Pertumbuhan Transportasi. Perlu disusun rencana kerja yang akan membangun system ‘transportasi masal’ (Bus way, KRL, Kereta Monorel, dll yang bersih bergengsi) dan  peralihannya dari transportasi umum  ‘kecil kecil’ (oplet, bajai, oject) yang tidak ekonomis secara ‘enersi masal’ dan kecelakan / kesemerawutan lalu lintas.
  • Konsep Pertumbuhan Transportasi Terhadap Budaya. Perlu diwaspadai bahwa suatu konsep transportasi nasional yang ‘tidak tepat’ akan mengorbankan enersi nasional yang tidak terbaharui dan menimbulkan ‘efek budaya konsumtif’ dengan multi efek yang rumit lainnya. Tidak adanya konsep pertumbuhan transportasi masal yang direncanakan dengan baik, telah menumbuh suburkan tumbuhnya kendaraan alternatif (mobil pribadi, taxi yang berlebihan,  transporatsi kecil, motor, oplet) yang berkembang. Secara budaya timbul persaingan ‘gengsi’ untuk memiliki kendaraan sebagai bagian penampilan pribadi, dan menjadi penting ditampilkan walaupun harus dipaksakan dan dikorbankan kebutuhan dana lainnya. Kendara tersebut terbukri memamak korban dalam jumlah besar setiap tahun. Semua ‘makin dianggap wajar’ karena tata-nila bergeser. Semua malah menjadi korban produsen kendaraan dengan serangkaian industri downstream dan jasanya.
  • Konsep Transportasi Ideal Perlu ditumbuhkan. Untuk membangun pola pikir, merubah mindset para cendikiawan, para perencana transportasi, para pengambil keputusan dibidang tarnsportasi dan enersi di Negeri Nusantara ini. Perlu ditampilkan impian-impian (alias  visi idela) mengenai konsep transpoartasi yang indah dan efek budaya visual yang baik. Perlu peran media membangun impinan demikian.
  • Impian dari contoh di negri sana(?). Tinggal berpuluh keluarga, nun jauh dari kota tempat tugas (15-40 KM). Pergi kerja, sekolah cukup naik kereta api / KRL / Busway / Trem / dll  (Transportasi masa) yang bersih, indah, sejuk, tepat waktu dan murah oleh subsidi pemerintah. Sekali angkut bisa ratusan orang per waktu yang bisa dipercepat sesuai kalkulasi kerapatan penumpang oleh komputer dipintu masuk. Tua, muda, pria wanita, semua nyaman danaman. Kendaraan pribadi tinggal didesa atau dipemukimannya saja. Di Kota, jalan ditrotoar uang luas nyaman, bebas parkir dan kaki-lima, bersih dan paling hanya bersama sepeda saja. Udara bersih. Pepohonan banyak. Antar gedung hotel tidak harus di pagar, sehingga menjadi bahagian untuk pejalan kaki. Tidak ada kaki-lima, kecuali disediakan tertentu dan bersih-rapi. Semua orang merasa sama nyamannya, dan kendaraan pribadi hanya dipakai keluar kota atau disekitar rumah dipedesaan. Itupun bila tidak ada transportasi umum. Masyarakat tidak menjaqdikan kendaraan sebagai ‘gengsi’, namun sebagai kebutuhan, diluar kendaraan umum masal yang bagus dansangat nyaman.
  • Tentu secara ekonomi, penghematan akan muncul. Orang tidak membawa mobil, motor, tidak perlu parkir dikota yang mahal, pilihan kendaraan umum masal banyak, murah. Kendaraan pribadi yang tiap keluarga memiliki satu,dua, tiga termnasuk motor tidak diperlukan sebanyak itu lagi. Al-hasil penghematan terjadi.
  • Penghematan dampak transportasi yang tertata. Biaya harus punya kendaraan tiap anggota keluarga, berkurang jadi satu saja(?) dan digunakan sangat terbatas. Persaingan tipe kendaraan yang konsumtif hilang. Kecelakaan turun, kenyamanan naik, kesehatan membaik karena polusi udara turun. Produktifitas pekerja naik, karena tidak letih oleh menyupir / memandu sepeda motor.
  • Hasil penghematan budaya konsumtif BBM dapat meringankan pemerintah, dan dapat untuk membiayai transportasi umum dan subsidi transportasi umum yang lebih murah biaya BBM secara nasional. Dapat membiayai sarana transporatsi angkutan barang, Kereta api natar kota, kapal laut, untuk menurunkan kerumitan mobil truk yang makin mejalela. Konsep yang baik harus disipakan untuk nagkutan barang antar kota, antar propinsi dan antar pulau atau negara. Saat ini, makin bagus tol, makin besar dan panjang mobil truk, makin banyak dengan segala dampaknya. Mungkin perlu Kabinet Transportasi negara Nusantara (?) dengan tim yang berwawasan luas untuk menyiapkan konsep Transportasi Nasional, memilih kendaraan prioritas kedepan yang memiliki visi dan konsep yang baik, bersama  Kemetrian terkait bidang  Enersi dan Industri.

 Bila konsep transportasi dan penerapnya tersesun dan berjalan baik, pengaruh terhadap budaya nasional yang selama ini dipaksa oleh situasi menjadi konsumtif enersin bersaing tipe kendaraan, cidera atau matiu karena kendaraan, tidak sehat karena cemaran CO dan CO2 asap mobil, kurang produktif karena letih diperjalanan, trotoar tidak kotor dan diperleber untuk kenyamana pejalan kaki yang makin sehat karena sambil kerja / kesekolah jalan kaki dengan nyaman akan makin sehat dan lain sebagainya. Kapan ya?

Syo.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.