Sehat, Indah dan Nyaman

Jalan, Trotoar & Penyebrangan

Keindahan kota bila dikelola dengan perencanaan yang baik, dan diawali dengan cara pandang dan norma perencana yang baik.

Sehat, Indah dan Nyaman merupakan anugerah Tuhan yang selalu dicari orang.  Bahkan dengan biaya mahal sekaligus. Banyak orang berpergian kesuatu tempat dengan biaya yang mahal untuk mencari gabungan ketiga situasi ini.

Namun dikota besar Indonesia, upaya melestarikan 3 hal inisering dikorbankan. Hak hazasi manusia untuk 3 hal ini sering terabaikan, hanya oleh kesalahan pembiaran dan mungkin juga oleh keputusan yang sangat instant namun berakibat besar.

Kota yang sehat, memberikan fasilitas yang sehat, indah  dan nyaman bagi warganya. Kota dengan trotoar yang cukup lebar, sehat, indah, nyaman dan dirawat, akan mendorong warganya untuk lebih banyak berjalan kaki yang memberi dampak positifbuntul lebih sehat. Dengan disediakan transportasi masal yang juga sehat, indah dan nyaman akan mendorong warga menyukai untuk menggunakannya, sekaligus mangurai kekusutan lalulintas yang padat, serta terjadi penghematan BBM.

Design kota sehat pernah ada diibu kota negara, propinsi dan kabupaten negara Nusantara ini, namun kini tercemar atau menghilang karena alasan toleransi yang salah, atau oleh pejabat yang tidak futuristik dan berfikir serba instatns.

TROTOAR jadi tempat dagang, jadi tempat parkir, tempat pot bunga atau pohonan baru penghijauan kota, atau kaki jembatan penyeberangan, kaki tiang iklan, kaki  rambu lalulintas, tiang listrik dengan alasan kepentingan publik, namun diletakkan seenaknya. Dari kesalah demi kesalahan, tumbuh juga pajak dan pungli bisnis liar. Itulan Kota di Negara Nusantara kini. Generasi baru, melihat, itulah yang standard di kota dan menjadi herang bila berkunjung ke Manca nagara, kok semua serba tertata. Padahal di Nusantarapun dahulunya tertata seperti di negeri sana. Belanda meninggalksn banyak contoh  tata kota, khusus standard jalan yang baik. Rusak oleh pejabat instant, ex politikus jadi pejabat. Warga jadi korban.

Sandainya saja, jalan bagus, dilengkapi trotoar sekebar 1,5 – 2 meter, maka pejalan kaki akan nyaman, sehat dan kota terasa indah. Kalaupun ada kendaraan, hanya sepeda yang boleh ditrotoar (bila troar lebar 2m).  Jalan 15 – 20 menit (ekivaken 1500-2000m) pagi adalah sehat. Pulangnya 15-20 menit lagi. Telah sesuai anjuran dokter jantung untuk olah raga sehat. Ini jebiasaan di kotavEropah, Jepang, Korea dan kota besar kainnya. Kaoan di Nusantara ini.

STANDARD BANGUNAN

Alangkah baiknya bila ada standard dari negara dalam membangun menata kota. Standardisasi bangunan bisa menjadi alat kontrol kendali pembangunan dan anggaran negara / APBN. Perbedaan tiap kota hanya factor lokasi. Bila sudah pernah ada, kenapa tidak diaplikasikan?.

KONTROL MASYARAKAT

Hak azasi manusia hendaknya mulai ikut mengontrol hak pejalan kaki, agar penyalah gunaan hak pejalan kaki oleh siapapun berjalan baik, mengkoreksi kesalahan kesalahan yang ada.

Semoga kota Negeri Nusantara , menjadikan Sehat, Indah dan Nyaman itu ada dimana mana, disetiap kota. Itu hanya akan makin terbangun bila mind set Sehat, Indah dan Nyaman dalam persepsi warga kota terbangun nersta dan membaik. Prmerintah kota turut membangun tata nilai dalam mindset warga tersebut.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.