BBM & Permasalahannya

Managing operation skill dalam suatu refinery merupakan  “mengelola keterampilan operasi berbasis pengetahuan dan pengalaman praktek” dalam kilang minyak. Kegiatan ini adalah upaya systimatis yang merangkai pengelolaan sumberdaya manusia, pengetahuan dan pengalaman teknis serta  sarana pelatihannya secara teratur,  terstruktur, dengan arah, tata waktu dan pembiayaan yang jelas dan direncanakan untuk mencapai sasaran terbentuknya tingkat keterampilan “perorangan dan team terpadu mencapai level tertentu” dalam kemampuan mengoperasikan teknis suatu unit di refinery. Hal ini dilakukan berkesinambungan agar pengetahuan dan keterampilan terjaga dalam level yang diinginkan tersebut tetap sama atau meningkat, mencukupi kebutuhan minimum pengoperasikan refinery tersebut agar bisa aman dan beroperasi secara efektif, efisien, handal berkesinambungan.

Siklus kegiatan pengelolaan  atau managing operation skill, meliputi tahap perencanaan (trainees, materi pelatihan versus unit operasi yang akan dioperasikan, target hasil yang dikehendaki versus waktu), pengorganisasian pelaksanaan, pengaturan dan pengendalian pelaksanaan dan pengujian progress serta evaluasi  hasil siklus sebelumnya untuk perbaikkan (Opportunity For Improvement) pada siklus managemen berikutnya.  Kualitas hasil sangat dipengaruhi kualitas dasar / basic dari: Latar belakang KSA (knowledge, Skill & attitude) peserta / trainees; materi, pola dan waktu pelatihan; kesempatan aplikasi melalui simulator dan praktek real unit yang dikendalikan secara teratur dan baik; serta dukungan management dengan seluruh aspek management yang dibutuhkan (komitmen, pembiayaan, rule disiplin, sarana-prasarana latihan). Ingat, bukan kepintaran yang menentukan hasil, tapi “kesungguhan yang menentukan kualitas”, baik peserta maupun dukungan semua pihak terkait. “Manjada wa Jada”, siapa yang bersungguh sungguh pasti berhasil.

Kegiatan menjaga keprimaan skill berbasis knowlwedge harus konsisten, berulang secara periodik tapi berkesinambungan untuk menjaga tingkat-keprimaan (kehandalan) perorangan dan team dalam operasi yang aman dan distandarisasi kesiapannya, dengan tolok ukur derajat keprimaan perorangan atau team.

Yang di evaluasi dalam sistim managemen pelatihan mencakup adanya tahap perencanaan pengaturan berbagai sumberdaya pelatihan (manusia, waktu, aset yang akan dioperasikan / tempat kerja vs materi pelatihan), kesungguhan orang yang dilibatkan (organ suatu organisasi pengelola), besaran biaya, aturan dan konsistensi pelaksanaan berkesinambunang, dan kesisteman yang diterapkan. Aspek lingkungan dimasukkan dalam materi pelatihan.

Managing Operation Skill yang dibahas dalam Situs RefineryNusantara.Com ini lebih berorientasi kepada management operasi di refinery, sehingga lebih mengarah kepada aspek pemahaman  teknis pengelolaan operasi refinery. Keputusan keputusan dalam operasi direfinery lebih merupakan langkah pertimbangan dari suatu tantangan sangat teknis, harus teliti, yakin, seksama untuk melahirkan keputusan terbaik sehingga komando untuk peran skill yang diterapkan banyak memerlukan basis kemampuan berbasis pengetahuan dan pengalaman teknis, safety, logic keekonomian operasi secara cepat menggreakkan  team work. Karakter keputusan harus cepat, kecuali tidak kritis secara teknis. Skill berbasis pengetahuan dan pengalaman tersebut dipelihara, dijaga, saling bagi (sharei) dan dilestarikan untuk perbaikkan dari waktu ke waktu.

Kualitas suatu keputusan sangat dipengaruhi wawasan, latar belakang teknis dan pengalaman operasi dan management serta situasional saat itu, didukung kematangan konsiderasi saat keputusan tersebut dibuat, namun tetap memenuhi kaidah yang harus diikuti dan terbaik saat tersebut.

Aspek management Refinery, terkait operasional di suatu refinery,  meliputi Operation Management, Maintenance Management, Management HSE, Management Produksi dan Proses Unit, aplikasi Regulasi yang berlaku dan “norma leadership”  saat tersebut, akan berpengaruh terhadap managing operasional skill bagi Refinery disaat itu pula. Oleh karenanya “komando dari managemen” harus “dirasakan kehadiran” nya, dirasakan “ada dalam operasi” di refinery. Leader yang tidak mampu melahirkan atau menciptakan “rasa kehadiran komandonya” dalam operasi, cenderung menimbulkan disharmoni komando. Mungkin itu dalam aspek operasi, atau pemeliharaan, safety ataupu dukungan lainnya.

Untuk menghasilkan suatu kerja sama optimal dan fokus terhadap keputusan disuatu refinery, ada beberapa kunci utama yang menjadi pegangan yang tidak bisa ditinggalkan. Antara lain, harus diciptakan suasana dirasakan selalu ada direct / indirect instruction aspek operasi, safety, kehandalan / pemeliharaan agar  kepekaan senantiasa fokus terhadap kesinambungan operasi dan kehandalan refinery jangka pendek dan panjang. Dipelihara Ketaatan terhadap regulasi, keekonomian suatu keputusan, senantiasa mengutamakan safety personal, operasi Unit dan peralatan, serta lingkungan, dan harus terasa adanya kewajiban atas target pemenuhan kebutuhan pelanggan, pemenuhan spesifikasi teknis yang telah dibuat, telah diberlakukan, harus senantiasa dipelihara, dirasakan semua  pekerja. Bila line managemen tidak mampu menciptakan hal tersebut, akan mulai tampak dampak yang tidak diinginkan dalam komando. Line managemen tersebut perlu diganti, karena tidak tepat dalam jalur komando.

Management Operasi

Dalam mengoperasikan suatu refinery, management operation  di refinery  perlu memiliki bekal pengetahuan teknis dan pengalaman aplikasi  operasi yang cukup  kuat tentang unit proses dari  refinery yang dipimpinnya. Pengetahuan berbasis teori, pengalaman dan keterlatihan yang kuat akan memudahkan dalam mengambil keputusan teknis dan mengomandoi kegiatan operasional,  baik untuk dikala operasi normal ataupun emergency.

Management operasi harus memiliki “rasa” (instuisi karena kecukupan pengetahuan,  sering dan berpengalaman) bahwa “menilai tingkat kemampuan dan kefokusan personal dan team yang dipimpinnya apakah mampu atau tidak mampu memahami dan menerapkan aktifitas kunci  operasi unit “dengan baik”. Untuk itu, diperlukan track record latihan kepemimpinan, pengetahuan aspek peralatan, batas – limitasi design alat dan  unit atau sarana Kilang yang terpasang, pengetahuan dan pengalaman memanajemeni operasi dalam berbagai kondisi akan menumbuhkan “ketepatan rasa / intuisi tersebut” dan hal iniakan menimbulkan keberanian, atau sangat membantu keakuratan langkah  dalam mengambil keputusan operasi. Suatu keputusan yang besar, dampak ekonominya besar, bila salah juga besar resikonya.

Dalam Managing Operation Skill, Management Refinery secara teknis harus mempersiapkan berbagai system dan prosedur untuk diterapkan agar siapapun mudah mempelajari dan mengikutinya. System dan Prosedur mencakup membangun basis pengetahuan dan ilmu terapan (Knowledge base)  yang diperlukan refinery tersebut, untuk dasar aplikasi oleh bagi pekerja dalam lingkup Management dan Prosedur operasi, MaintenanceHSEOperation SkillProduction and Process UnitRegulasi dan hal hal terkait kegiatan Operasi Refinery sehari hari yang dipimpinnya.

Hal tersebut disusun dalam system management yang ditetapkan dan bisa diukur / dinilai hal yang perlu diperbaiki. Ada kalanya system yang digunakan dibuat teratur mengikuti system tertentu, bisa berupa system ISO Series, bisa dinilai dengan MBNQA, audit Asuransi, Proper atau apapun itu, dengan maksud yang sama, yaitu standarisasi prosedur pemandu tindakan management kegiatan secara terstruktur dan bisa diukur ketaatannya maupun  penyimpangannya, untuk bisa dilokalisir dan dibenahi.

RefineryNusatara.Com menyajikan secara bebas bentuk tulis dan best praktices pengelolaan atau management refinery yang diperkirakan baik untuk diberitakan. Semua untuk memudahkan bagi penulis. Mudah mudahan materi yang ditulis bermanfaat.

 

Salam.

Syo.

Comments are closed.