Refinery Dan Bahan Baku Minyak Mentah

Dalam membangun suatu Refinery baru, design awal, bermula dari memilih minyak mentah tertentu kemudian data minyak tersebut digunakan untuk menentukan unit proses dan design peralatan kilang, dari “konfigurasi rangkaian unit proses tertentu guna mencapai keekonomian terbaik nya”  dalam memproses minyak mentah tersebut. Arah produksi ditujukan sesuai  jenis produk mengisi kebutuhan pasar BBM atau Petrokimia dan kebutuhan energi terkini.

Jenis kandungan hidrokarbon minyak mentah selalu berbeda, baik komposisi kimia nya (persentase parafin, naphtenic atau aromatik atau gabungan nya) atau pun persentase fraksi-nya (fraksi ringan sampai berat, berupa gas alam, gas LPG, naphtha/gasoline komponen, kerosin, solar, sampai minyak residu) serta zat kontaminan (sulfur, garam, logam dan lainnya).

RefineryNusantara, memerlukan bahan baku minyak mentah. Namun jumlah produksi minyak mentah di wilayah Nusantara berkurang dari waktu ke waktu. Dahulu konon saat tertinggi, bisa mencapai 1.4 juta barel/hari. Kini diperkirakan mendekati 800 ribu barel/hari atau cenderung menurun.  Sebaliknya, kebutuhan BBM meningkat terus sesuai pertumbuhan negara, bahkan bisa mencapai 1.4 juta barel/hari alias menembus batas kapasitas kilang yang dimiliki Nusantara ini (yang hanya sekitar 1 juta barel/hari). Jadi harus di impor minyak mentah tersebut, sambil membangun kilang baru.

Bila minyak mentah berkurang atau habis jenis yang sesuai untuk design refinery tertentu tersebut, artinya crude sebagai bahan baku tidak cukup, tidak sesuai lagi untuk kilang yang ada, sehingga perlu dibuat komposisi campuran yang sesuai atau mendekati , mirip komposisi design semula atau di modifikasi. Itu menjadi tantangan para mengolah minyak mentah atau RefineryNusantara dari waktu ke waktu.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana sustainability (menjaga kontinuitas) ketersediaan minyak mentah pengganti yang kurang tersebut. Dalam hal jumlah,  pasti perlu sumber dari impor atau ada cara lain.

Untuk minyak mentah, cara cara yang lazim dipilih, diantaranya salah satu atau kombinasi dari:

  1. Intensifikasi pengeboran baru atau eksploitasi dengan teknologi lebih tinggi, lebih mahal biaya per barel nya.
  2. Tender pembelian minyak mentah. Berarti komposisi bisa berubah tergantung ketersediaan minyak di pasar. Adakah cara lain?
  3. Melakukan ekspansi,  ikut sebagai perusahaan eksplorasi dan produksi, pengeboran di negara kaya minyak, di Timur tengah atau Afrika dan lain lain.
  4. Atau dengan Cara mengikat penghasil minyak mentah yang kaya minyak mentah tersebut melalui ikut investasi di RefineryNusantara.

Keempat cara diatas tersebut semua sudah ditempuh, mungkin juga oleh semua negara lain di dunia. Tentu RefineryNusantara akan berbuat yang sama. Untuk langkah 4 negara tetangga mengikat dengan melibatkan investasi. Bagaimana dengan RefineryNusantara.

Hal yang agak mengkhawatirkan bila langkah nomer 4 tidak ditempuh, bila gagal beli (gagal point 1, point 2, point 3 alis minyak mentah tidak cukup untuk RefineryNusantara), pilihan langkah nomer 4, melibatkan investor menjadi pilihan tambahan. Caranya ?

Silahkan pilih solusinya,

  • beli si pemilik kaya minyak mentah (tidak mungkin?),
  • minta investasi sukarela (Tidak mungkin?),
  • Ikat dengan kerja sama investasi, melalui joint venture ( saling investasi).  Atau
  • Jajah secara politik (seperti negara Andikuasa, Juga tidak mungkin?). Ya pilih dari yang diatas, atau
  • gunakan enersi non migas, atau
  • tidak usah bermimpi jadi negara maju dengan minyak bumi?

Demikian pilihan, sebagai bahan pemikiran. Mungkin ada cara lain.

Salam.

Syofrinaldy.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.