Penghematan BBM dan Dampak Positif

Tulisan ini sekedar menstimulir para pembaca, pemikir dengan tugas yang relevan.

Pada beberapa negara, penghematan pemakaian BBM terintegrasi dengan pembangunan infrastruktur lainnya. Pembangunan terintegrasi  sebagai hasil keterpaduan dari perencanaan. Bisa saja perencanaan dilakukan hanya dengan kesadaran mau berkoordinasi sebelum pelaksanaan untuk menghasilkan yang terbaik kedepan. Semua hakekatnya memerlukan kematangan para perencana dan kesadaran untuk kebaikkan kedepan bersama. Contoh yang sering dijumpai yang masih perlu dibenahi:

  • Perencanaan pemilihan jenis kendaraan masal publik untuk jadi dikaji dan dibuat sebaik mungkin, jadi prioritas utama, dan sangat perlu dipertimbangkan dengan matang,     bukan kendaraan yang lebih kecil apalagi kendaraan pribadi atau hanya sekedar murah dan melaksanakan proyek saja. Betapa banyaknya kendaraan angkot kecil atau sejenisnya, masih belum tergantikan di kota besar. Era sudah berubah, dan hal tersebut masih dianggap kendaraan umum. AngKot adalah kendaraan pengangkut umum, itu betul, tapi itu bukan kendaran publik transpotasi masal yang cocok untuk kota besar dizaman sekarang, khususnya seperti tengah kota Jakarta, Bandung dan kota besar lainnya. Itu masuk katagori angktan desa. Bertahap harus disesuaikan, diperbesar. Kepemilikan bisa jadi koperasi bersama bagi para pengusaha angktan kecil tadi.
  • Perlu ada Perencanaan pembangunan jenis transportasi dan keterpaduan pemasok (dari pemukiman) ke terminal feeder arah kekota besar versus pendistribusian di perkotaan dan sebaliknya memerlukan perencanaan yang matang.
  • Pelihinan kendaraan pengganti truk yang masuk kota dengan sistim lain yang lebih besar tapi tidak menimbulkan kemacetan jalan. Misal kereta api, kapal, dan jarak dekat baru disitribusikan dengantruk. Jadi truk bukan untuk jarak jauh utama seperti uang sering dipertontonkan. Ini konsep jangka panjang dan besar.
  • Di Perkotaan Perencanaan pembangunan trotoar untuk masyarakat di perkotaan, dibangun, dijaga dan tidak disalah gunakan. Beberapa kota di Nusantara ini membangunnya sangat sempit, itupun dijadikan untuk parkir, pedagang kaki lima. Bahkan oleh Pemda kota, digunakan untuk kaki tangga penyeberangan, atau menaman bunga besar dan pohon sehingga menggangu sisa luas bagi pejalan kaki. Trotoar tidak dibangun dengan niat yang tepat untuk  sesuai fungsinya.  Trotoar yang nyaman memberi kotribusi penghematan BBM walau, karena jarak termuh dibawah 2.5 km sering ditempuh pejalan kaki dikota-kota besar di luar negeri. Jalan kaki dalam jarak tempuh 15 menit keatas atau ekivalen dengan jarak tempuh lebih dari 1.5 KM itu sehat. Memberikan kontribusi terhadap sehat bagi pejalan kaki masyarakat.
  • Perlu dipromosikan pembangungan trotoar sehat dengan jarak tempuh yang sehat diperkotaan, sekaligus penghematan BBM tersirat didalamnya.
  • Perlu pembangunan pertamanan disekitar trotoar pejalan kaki, dan perpakiran. Kombinasi jalan sehat, Trotoran yang nyaman, pertamanan, pemilihan jenis transportasi masal besar dan sehat, akan meghemat BBM dan menyehatkan masyarakat. Tingkat stressmasyarakat, anak, ibu bapak, supir dan pejalan kaki jadi korban pemikira dan perencana yang tidak komprehensif ditengah mahalnya BBM dan biaya pembangunan saat ini.


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.