Dollar Naik, Beban Subsidi Bertambah

Gonjang Ganjing Ekonomi Membebani Subsidi.

Betapa tidak, bila mana terjadi ketidak berimbangan (unplanned scenario) aliran dana dan barang keluar versus masuk, terlalu banyak  import dibanding export, terlalu banyak dollar keluar dibanding masuk, bahkan sampai pada kebutuhan konsumsi rakyat kecil pun diimport, gonjang-ganjing dan keresahanpun mulai terjadi.

Aliran dana keluar boundary Nusantara yang lebih besar. Dollar menaik. Ketergantungan terhadap import naik, melemahkan daya tawar negeri Nusantara. Barang pangan import seakan naik jadi terlalu mahal bila dikonversi ke rupiah, terutama bagi rakyat. Al hasil kegelisahan masyarakat, jutaan rakyat kecil menjadi naik,  biaya hidup yang makin naik, nilai uang terasa mengecil dibanding nilai barang kebutuhan hidup dasar.

Masyarakat menengah kebawah dan tenaga kerja, gelisah menuntut perbaikkan bila merasa biaya untuk hidup sehari hari makin mahal. Peluang mencari tambahan dana juga tidak tersedia. Faktor kebutuhan primer (pangan biaya hidup dasar) terganggu, akan sangat dirasakan oleh jutaan masyarakat. Timbul gonjang ganjing ekonomi jika tidak diantisipasi cepat.

Diperlukan Solusi komprehensif jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Jangka pendek menurunkan harga kebutuhan biaya hidup sehari hari, menstabilkan dan menurunkan harga, jangka menengah membangun ketersediaan kebutuhan biaya hidup dan perolehan tambahan dana untuk durasi agak pangjang, jangka panjang panjang menyediakan dan memapankan kestabilan kebutuhan hidup masyarakat banyak dalam negeri, mengurangi biaya konsumsi BBM via mengutamakan transportasi masal murah, yang  sehat dan bergengsi. Menekan import barang untuk kebutuhan hidup primer rakyat mengganti via meningkatkan kemampuan penyediaan dari dalam negeri yang lebih banyak dan penyediaan lapangan kerja.

Gonjang ganjing dollar menaikkan nilai import untuk volume yang sama. Biaya subsidi BBM import naik karena rupiah tertekan dibandingkan dollar. Harga minyak import seakan makin mahal bila dirupiahkan. Sedangkan negeri ini harus import BBM untuk kehutuhan masyarakat setiap harinya, sampai sebesar 30-40% diimmport. Biaya bergerak masyarakay (transportasi) seakan menaik.

Kegelisaah pekerja akan meresahkan / menakutkan investor, menambah ketidak pastian bagi investor.  Bahkan melumpuhkan investor kecil dalam negeri yang baru tumbuh, berarti menyempitkan lapangan tenaga kerja.

Dollar yang tinggi dan bergerak naik terus, menyebabkan masyarakat menukar dan menyimpan uang dalam bentuk dollar, dan ini menyebabkan exportir memarkir dana di luar Nusantara. Dollar makin mahal karena menjadi terbatas. Dollar makin mahal.

Untuk menstabilkan dollar terhadap rupiah, langkah diatas perlu ditindak lanjuti, dan ketenangan masyarakat banyak dan pekerja perlu disegerakan, ketengan pengusaha perlu dibantu, kesempatan kerja diperluas, dan transportasi masal lebih diutamakan, dikembangkan. Disamping ketertiban hukum dan menekan kebocoran dana karena korupsi dan non efisiensi dampak program yang tidak tepat perlu diredam. Perkuat infra struktur ekonomi masyarakat secara tepat. Era transparansi dan non monopoli dikembangkan. Tumbuh kembangkan pengusaha lokal kecil, menengah agar jadi besar. Fasilitasi kebutuhan mereka secara tepat guna perkuatan lapangan kerja. Tenaga kerja terlatih diutamakan untuk menunjang kebutuhan tersebut.

Dollars stabil, turun terhadap rupiah, secara alami seakan menurunkan subsidi BBM (dari sisi biaya), Transportasi masal yang elegan, sehat dan membanggakan, dengan harga “murah” akan menekan volume konsumsi BBM subsidi. trotoar lebar bagus indah akan memudahkan masyarakat jalan sehat, banyak jalan dan menekan biaya transportasi jarak pendek yang sangat banyak jumlahnya di perkotaan. Masyarakat akan sehat seperti di Jepang, Korea, yang banyak jalan 2 x (15 s/d 25) penit perhari. Biaya kesehatan masyarakat turun.

Antar kota cukup pakai transportasi masal,  kereta, bus / travel elegan. Biaya pangan turun dan ketergantungan terhadap import turun jika aspek pertanian dijaga tetap menjadi perhatian utama pemerintah. Semahal apapun dibeli dari petani, nila uang tersebut akan beredar didalam negeri, tidak ada “Dollar Drain ke luar negeri”. Industri dalam negeri harus jadi raja dinegeri sendiri. Pangsa pasar indonesia jadikan untuk Indonesia, walau import boleh. Artinya bangga dengan produk sendiri dibudayakan, dicontohkan oleh para pemimpin. Jangan jadi asing di negeri sendiri. Bayangkan masyarakat Nusantara lebih bangga memakai barang import atar makanan berbasis import dari pada produk Nusantara. Budaya perlu dikaji untuk diluruskan.

Dalam halm pendidikan kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan menumbuhkan kecerdasan Nurani dan spiritual agar qolbu bersih. Bisa membedakan yang halal. benar dari yang tidak halal (hasil korupsi). TUMBUH KEMBANGKAN  kemampuan bangsa dalam pendidikan, dalam memilih yang benar menurut hati /qolbu / agama, agar norma MALU BERBUAT SALAH, MALU MAKAN YANG TIDAK HALAL, DAN CERDAS QOLBU BERIMBANG DENGAN KECERDASAN INTELEKTUAL. Agar tumbuh generasi bersih. Pemimpin masa depan yang bersih, dan masyarakat yang berbudaya.

Mudah mudahan kedepan,   Negeri Nusantara lebih bisa berbangga dengan kemajuan yang merata disegala sektor, terutama dinikmati seluruh lapisan masyarakat kecil, menegah besar secara berimbang, namun kuat dan setara dengan negara manapun didunia ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mandiri, kuat dalam etika, cerdas dalam qolbu yang berakhlak mulia serta maju dalam kecerdasan intelektual. Intelektual yang berakhlak bukan kering dan munafik.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.