BBM Subsidi Tidak Tepat Sasaran Di Kota Kota Besar

Banyak perdebatan masalah BBM subsidi, namun realitanya masih berputar itu itu juga, pola penyaluran yang tetap begitu begitu saja. Pola sibsidi BBM begitu begitu juga. Hasil nyata dari pola subsidi seperti itu itu juga, hasilnya dipanen  sekarang adalah:

  • Jalanan tambah macet: Kendaraan tambah banyak, bahkan hampir setiap orang dari  setiap keluarga untuk bisa bergerak nyaman keluar rumah, seakan-akan dipaksa untuk harus memiliki kendaraan perorangan yang ujungnya minta BBM subsidi. Seakan akan BBM menjadi merupakan keharusan dan jadi solusi akhir bagi setiap pemegang kekuasaan di Negeri Nusantara ini. Memang ini solusi termudah, jangka pendek menjaga popularitas sesaat bagi para politisi dan pengambil keputusan. Namun sebenarnya bisa berarti “keterbatasan kemampuan untuk mau berfikir keras mencari alternatif lain dengan resiko tidak populer” dan juga akan melahirkan bom waktu dalam jangka panjang, beru kemacet total lalulintas. Negeri Nusantara telah tertinggal jauh dari negeri tetangga dalam solusi lalu lintas.
  • Dampak negatif yang sering tampak adalah, setiap keluarga melengkapi anggota keluarganya dengan berbagai kendaraan bermotor. Mobil mulai beralih jadi tempat istirahat bagi semua penumpangnya. Bagi supirnya, tiduran sambil menghidupkan mobil dan AC sambil dengar lagu, bagi keluarga ber AC sambil nonton TV menjalani kemacetan lalu lintas. Bagi sebagian pemilik sepeda motor,  dan makin banyak motor jadi ojek, oplet yang kecil-kecil jadi sarana ojek cari uang sehingga. Semua terlahir sebagai dampak kebijakan yang tidak pernah berubah.

Apa sebenarnya yang diperlukan penduduk di Kota-Kota Besar negeri Nusantara ini? tidak lain hanya kenyamanan untuk bergerak cepat, mudah berpergian, berpindah tempat dengan nyaman, ber AC, biaya tidak mahal namun aman. Jadi bukan motor, bukan mobil, bukan persaingan  merek kendaraan. Pembiaran terhadap kebutuhan ini, melahirkan opportunity bagi lahirnya budaya konsumtif akan BBM melalui perlombaan beli motor, mobil dengan segala macam kemacetannya, hingga lahir projek jalan, proyek mobil dinas, proyek gedung  parkir ditengah kota yang makin sempit. 

  • Seandainya saja  setiap orang yang ingin berpergian, bisa dengan mudah, dapat naik kendaraan umum yang besar, ber AC, nyaman, aman tidak harus nyupir mobil sendiri atau disupiri, tidah harus cari perkir dan bayar parkir, tidak perlu beli motor atau mobil banyak, mudah berpindah kendaraan antar jurusan di setiap tempat, dan tidak harus memikirkan biaya supir, maka memiliki kendaraan pribadi tidak jadi prioritas utama lagi.
  • Semua memerlukan pemahaman yang bijak dari pemimpin negeri Nusantara  dan harus ada kemauan politik untuk menyusun rencana kerja  demikian mengingat pasti diperlukan biaya invenstasi yang besar, berjangka panjang.
  • Biaya BBM diprioritaskan seharusnya untuk transportasi masal diatas. Implementasi biaya BBM yang demikian masuk akal, sehat, yaitu untuk Transportasi Masal yang nyaman, aman dan mudah, murah didapat di Kota Kota Besar Negeri Nusantara. Kapan Ya?.

Syo.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.