BBM Nasional dan Perubahan Harga kok jadi masalah Besar?

Dewasa ini, berbagai berita tentang wacana, diskusi, argumentasi bahkan sampai demo perang opini pro dan kontra tentang subsidi bbm makin ramai dibicarakan, hanya karena perubahan harga BBM, sehingga  menjadi headline  media tiada henti  di seluruh Nusantara ini. Semua orang bagaikan terjebak dengan kebenaran menurut opini masing masing, toleran hanya diberikan kepada pihak sepemikiran. Yang lucu, ada kecenderungan masing masing berpikir puas bila statementnya sudah disampaikan dimedia, kemudian orang ramai membahasnya. Seakan akan negara yang dikenal sebagai negeri nusantara yang ramah penuh mufakat sudah menjadi ajang kepuasan bathin bila bisa bereskpresi tanpa kompromi dan bisa menyudutkan pihak lain. Seakan tiadak ada keinginan mencari solusi bersama. Ada apa dengan negeri Pancasila sekarang ini? Apakah ini bukan bentuk lain dari masih adanya sifat berang / perang antar suku (zaman dulu) namun sudah dikekang oleh rasa malu karena intelektualitas pribadi sudah lebih baik?.

Ada apa gerangan dibalik gejolak yang seakan makin dahsyat? Bukankah naik turunnya  harga suatu barang adalah hal yang alami dimana saja. Harga apa saja bisa berubah, apalagi harga suatu komoditi, termasuk enersi. Banyak faktor yang bisa merubah harga, tapi kok muncul suatu respon yang besar, apakah ada sesuatu yang salah, tidak terungkapkan dengan baik, dan kemudian menjadikan perubahan harga bbm yang merupakan kebutuhan orang banyak dijadikan momen ekspresi bersama, mencari teman untuk berekspresi ketidak puasan bersama? Bukankah begitu? Apa gerangan sesuatu itu?

Mari sekilas kita lihat, lupakan sejenak aspek lain yang non teknis, sementara fokuskan terhadap masalah BBM saja? Yang lain tidak dibahas, kecuali sangat sepintas. Web site ini lebih fokus terhadap aspek teknis terkait minyak bumi atau BBM saja.

Khusus masalah minyak bumi yang menjadi BBM, mari kita lihat secara jernih dari uraian berikut:

  1. Produk yang diperoleh dari  alam yang berasal dari sumber daya cadangan alam (Natural Resources) yang tersimpan diperut bumi atau dibawah permukaan bumi disebut sumber daya alam yang tidak terbaharukan, karena bisa berkurang dan habis bila teru menerus diambil. Oleh karenanya akan:
    1. Wajar bila minyak bumi di Nusantara bisa berkurang karena diambil terus menerus.    Hal ini terlihat dari data produksi nasional, yang dulunya dari 1.6 juta bbl/day di zaman Orde-Baru, saat ini menurun terus produksinya sampai menjadi sekitar 900-930 ribu bbl/day (dibulatkan). 
    2. Wajar pula bila biaya produksi memperoleh minyak mentah (recovery) yang makin sulit, akan makin mahal, karena mencari minyak sisa dengan teknologi yang makin rumit (enhanced technology) seperti penggunaan steam injection / steam float  memerlukan biaya tinggi, sehingga makin mahal biayanya. 
    3. Wajar bila biaya produksi minyak bumi (USD/bbl minyak dihasilkan) dari bawah tanah yang makin mahal dan ini dibayar pakai minyak bumi hasil produksi (disetarakan USD) untuk menganti ongkos mencari dan memproduksinya, sehingga perolehan yang semula sekitar 900.000 barrel/day (bila dibulatkan) tersebut berkurang karena dipotong ongkos pengganti biaya produksi. Oleh karenanya hasil bersih  minyak  yang akan dibagi antara pemerintah-kontraktor sudah lebih kecil dari 900.000 bbl/day tersebut). Katakan sisa “x” bbl/day. 
    4. Hasil bersih “x” tersebut baru dibagi sesuai kontrak bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor, al-hasil total hasil bersih jatah pemerintah kira kira menjadi sekitar 600-630 ribu barel/hari.  Semua biaya dan pembagian tersebut tentu ada mekanisme kontrol transaksi oleh auditor yang ditetapkan detailnya. 
    5. Hitungan diatas jelas sangat kasar. Konsumsi kebutuhan nasional diberitakan sekitar 1200.000-1300.000 bbl/day, artinya jika secara neto jatah pemerintah tersisa 600-630 Ribu bbl/day padahal  kebutuhan nasional 1200.ribu-1300ribu bbl/day. Perlu import? Itu pasti.
    6. Untuk menutupi kekurangan tersebut, perlu import 300.000 s/d 600.000 bbl/day atau 700ribu bbl/day. Import menjadi kecil,  hanya 300.000 bbl/day bila jatah milik kontraktor sebesar 270-300 ribu bbl/day (dari hasil biaya dan bagi hasil tersebut) dibeli untuk kilang BBM dalam negeri. Inipun bila semua jenis crude tersebut bisa diolah di Kilang. (Ingat, Kilang memerlukan crude sesuai design, dan tidak semua jenis crude nusantara bisa diolah di kilang dalam negeri).
    7. Kesimpulan, secara jumlah Minyak Bumi, Bumi Nusantara sudah menjadi  pengimport tetap minyak bumi”. Hal ini karena jumlah produk minyak mentah nasional lebih kecil dari konsumsi nasional. Kalaupun ada eksport, lebih berorientasi pertukaran jenis minyak bumi, sweet crude dijual, crude jelek dijual, dan dicari crude yang sesuai untuk design kilang yang ada atau bahan pencampur seperlunya. Tapi BBM tetap harus import.
  2. Pertumbuhan konsumsi minyak bumi makin besar.
    1. Berbagai pemakai BBM semakin banyak, apakah itu kendaraan otomotif, motor dan industri semakin banyak searah dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap rumah penduduk yang dulu langka memiliki kendaraan bermotor, bahkan langka memiliki sepeda bagus, namun sekarang, rata rata mulai memiliki kendaraan bermotor, dan ada yang memiliki lebih dari satu motor, atau mobil bahkan ada yang  lebih dari dua sepeda motor per rumah atau dua mobil.  
    2. Ini pun diikuti makin bertambahnya jumlah penduduk yang dulu 120 juta jiwa, sekarang mungkin 220-240 juta jiwa?. Pertumbuhan tersebut memungkinkan pertumbuhan konsumsi BBM, mungkin bisa lebih dari 4 % / tahun? 
    3. Akankah semua kebutuhan akan BBM meningkat ini seterusnya tetap menjadi beban subsidi? Dapatkan penggunaan BBM di rubah agar lebih efisien, dalam artian akan lebih banyak tersedot oleh kendaraan umum masal berkualitas dari pada pemakaian oleh kendaraan pribadi. Diperbanyak kendaraan umum masyal yang nyaman, bergengsi, membanggakan secara pribadi maupun nasional namun efisien dalam bahan bakar, efektif sebagai angkutan umum,  dari pada kendaraan pribadi seperti saat ini yang tanpa pilihan lain untuk kenyamanan? Kendaraan umum masyal, bergengsi, membanggakan akan menyebabkan penurunnan pemakian BBM per penumnag lebih efifien, dan dengan sendirinya ongkos per orangan akan lebih murah juga.
  3. Permasalahan lain terkait pengadaan dan konsumsi bbm:
    1. Kapasitas Kilang Nusantara terbatas. Kapasitas Kilang saat ini juga terbatas, kurang kebih 1.050-ribu bbl/day dari 6 kilang Nusantara. Itu jika semua beroperasi. Kenyataannya, setiap kilang secara  bergilir harus ada yang stop sebagian untuk perawatan, ganti katalis atau pemeriksaan teknis mesin secara berkala sesuai standard teknis an peraturan kemananan alat yang berlaku, sehingga produksi totalnya mungkin berkisar 80-90% dari total kapasitas terpasang. Semua biaya perawatan dan produksi dibebankan  melalui mekanisme biaya operasi produksi bbm kilang nasional, yang diperkirakan hanya sekitar Rp 550-650/ltr. Kekurangannya diimport. Harga pembelian oleh pemerintah ditetapkan melalui mekanisme harga setara import (international price) + ongkos  kelola dan distribusi atau Alpha. Semua dikelola secara profesional, diaudit dan dipertanggung jawabkan secara kontraktual antara penyediaan dan lembaga yang mewakili pemerintah (BPH Migas) terhadap perusahaan nasional atau yang ditetapkan sesuai kontrak kerja dengan ikatan kontrak. Dengan Kapasitas kilang yang sekarang ini, import BBM sudah sedemikian tinggi, kedapan, akankah BBM import tumbuh terus? artinya akan makin tergantung negara ini terhadap import dari luar negeri sana? Mengingat hal demikian maka perlu adanya solusi cerdas, sistimatis jangka panjang dan jangka pendek dalam masalah enersi BBM ini.
    2. Kilang perlu ditambah. Untuk meminimalkan ketergantungan terhadap BBM import, dan khususnya mengingat adanya beragam kebutuhan dalam negeri terhadap produk minyak bumi, berupa BBM atau bahan baku Pertokimia (hasil samping) untuk industri, maka dirasa perlu dibangun tambahan kilang baru. Namun untuk Kilang baru, diperlukan biaya “investasi yang besar, perlu adanya kepastian sumber minyak bumi jangka panjang yang tetap dan berkesinambungan dari sumber yang pasti serta keputusan ini harus didukung dengan kebijakkan pemerintah”. Mengapa?, karena investasi suatu kilang sangat mahal. Kilang adalah sarana pengolah minyak bumi jadi BBM dan Non BBM yang padat modal, highrisk serta saat pembangunan perlu bantuan berbagai kebijakkan dan dukungan pemerintah, sedang diawal operasi perlu dispensasi pajak dan market sampai periode tertentu. Kenapa demikian? hal ini karena disatu sisi,  dampak pertumbuhan  ekonomi yang tidak langsung dari hasil pembanguna suatu  kilang dalam negeri akan sangat besar, baik diaspek lapangan kerja dan kegiatan ekonomi uptream dan downstream-nya, disamping mendukung stabilitas produksi enersi nasional. Disisi lain, dalam amplop pagar kilang, keekonomian sangat rendah, karena harga minyak tinggi dan banyak investor menghidar untuk berinvestasi mengingat biaya tinggi, pengambalian biaya invastasi sangat jangka panjang, ROI kurang menarik, dan resiko operasinya besar bagi investor swasta. Karenanya, untuk membangun kilang, sangat diperlukan dukungan kebijakan pemerintah dan dukungan semua pihak terkait, mulai dari kepastian suplai crude pasokan, penyaluran berbagai jenis produk dari kilangn sampai stabil. Produk kilang akan turut menstabilkan ekonomi nasional. Perlu diingat bahwa Perhitungan keekonomian pembangunan kilang bila hanya berdasarkan “amplop keekonomian kilang semata” di dunia saat ini cenderung rendah atau bisa negatif. Namun nyata nyata di Nusantara ini  diperlukan adanya tambahan kilang baru.
    3. Meng-Efisiensi konsumsi bbm Nasional. Pengurangan konsumsi bbm tampaknya akan menjadi mustahil mengingat pertumbuhan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi dan industri yang memerlukan BBM tidak bisa dihambat. Pertumbuhan kendaraan makin banyak. Namun efektifitas dan efisiensi pemakaian BBM per kapita bisa diefisienkan, misalnya dengan mengutamakan perbaikkan dan penambahan sarana dan prasarana transportasi masyal umum berkapasitas besar yang membanggakan, nyaman dengan standard berkelas dunia. Pemakaian bbm oleh kendaraan umum masal berkapasitas besar akan lebih efisien konsumsi kendaraan masal “liter per orang per tahun” dibandingkan kendaraan pribadi “liter BBM per orang per tahun”. Penurunan kemacetan nantinya juga akan meningkatkan efisiensi tersebut. Oleh karenanya pembangunan sarana kereta api, mono rel / bus umum berkapasitas besar yang nyaman dan membanggakan harus diutamakan dan bukan kendaraan umum yang kecil kecil. Pada giliran berikutnya penggunaan kendaraan pribadi ditekan melalui menaik pajak kendaraan bermotor atau menaikkan biaya parkir khusus diperkotaan. Dikebanyakan  negara maju, transporatasi masal sudah lama menjadi bagian program transportasi nasional dan ini diutamakan, karena sangat terkait dengan efisiensi biaya enersi nasional. Masalahnya, enersi memberi dampak vital secara transportasi, ekonomi, kesejahteraan dan efisiensi disegala bidang termasuk efesiensi waktu kerja para angkatan kerja nasional. Bagimana dengan negara nusantara ini kedepan?
  4. Akankah  dimasa depan, masalah BBM akan terus menjadi di subsidi, sedangkan negara ini sudah menjadi pengimport BBM? BBM dapatkan di rubah agar lebih efisien? Perlukah setiap kenaikkan BBM dipermasalahkan sedangkan saat ini negeri Nusantara sudah termasuk  peimport besar minyak bumi dan itu sudah terjadi. Bagaimana solusinya? siapa yang harus memikirkan? Tampaknya perlu dibuat perencanaan global yang total dan komprehensif dalam bidang enersi  mencakup semua aspek yang terkait dengan konsumsi / efisiensinya kedepan. Solusi yang diperlukan dan harus adalah:
    1. Pembangunan transportasi masal, nyaman yang membanggakan,  berkelas di mata dunia, yang mampu menjadi transportasi bagi berbagai kalangan masyarakatsemua tinhkat karena aman, nyaman dan membanggakan bagi negara. Biaya perorangan akan murah karena muatan masyal dan pengiperasian otomatisasi, meminimalkan kesalahan orang.
    2. Pembangunan Jalan khusus transporatsi masal tersendiri, terpadu dengan jejaring distribusi lainnya, seperti ke Airport, antar angkutan darat (bus, kereta api, taksi, laut), baik bagi manusia maupun transportasi barang. Jejaring yang komprehensif dengan otomastisasi sistem kendalinya.
    3. Pembangunagn trotoar yang nyaman, akan memperbanyak pejalan kaki (sehat) untuk jarak pendek, menurangai BBM disamping dapat untuk sepeda dan orang. Ini banyak dinegara lain.
    4. Pembangunan Kilang untuk menstabilkan produk BBM dan Produk-produk dowstreamnya untuk menstabilkan dan penguatan industri upstream dan downstream dari produk terkait hasil minyak bumi, dengan didukung kebijakkan pemerintah yang menstimulir terbangunnya kilkang tersebut.
    5. Optimasi Utilisasi produk enersi lainnya, apakah itu gas bumi, batu bara untuk power plant, natural gas (gas alam) untuk power plant, transportasi dan industri nasional. Diperlukan master plan penggunaan enersi alternatif dengan perencanaan terpadu dan aspek teknologinya.  
    6. Maksimalisasi enersi terbaharukan, seperti BBM nabati, enersi matahari, angin dan gelombang laut serta enersi nuklir pada saatnya dengan teknologi yang tepat.
  5. Perlukan ada gejolak besar, demo dan benturan politis antar masa  bila ada perobahan harga bbm disaat yang akan datang?
    1. Kenaikkan harga adalah suatu yang lazim dan umum terjadi setiap saat didunia ini. Perubahan harga dapat terjadi karena ada perubahan teknologi, perubahan konsumen, pola pakai, pola kelola dan kegunaan, perubahan pasar dan musim dingin-panas serta berbagai situasi ekonomi, politik lokal  maupun global. Demikian juga dengan harga minyak bumi, dan akan terasa dahsyat bagi negara importir minyak bumi, termasuk negeri  Nusantara ini yang konsumsi bbm nasionalnya telah melebihi kapasitas produksi minyak bumi nasionalnya. Namun ada yang salah? mengapa kok timbul masalah bila harus naik?. Mungkin kenaikkan bbm terlambat? Mungkin keputusannya terlambat? atau Delta harga kenaikkan terlalu besar disuatu saat, seakan akan sangat drastis dan mengagetkan besarannya serta dampaknya? Mungkin ini yang salah?
    2. Jika kenapa kenaikkan BBM terlalu besar deltanya (33.3% bila Rp 1500,- terhadap Rp 4500,-)? Kenapa? Bukankan bisa bertahap, misal Rp 500,- per 3 bulan, tunggu stabil dan evaluasi dulu baru dilihat kemungkinan naik lagi? Bukankah kenaikkan sedikit persatuan waktu bisa diatur manis, dan spekulan tidak akan turut bermain bila delta harga kecil karena resiko hukumnya besar.
    3. Apakah merubah kenaikkan harga bbm dinegeri ini telah menjadi terlalu sulit atau birokratis?, sehingga setiap usul menaikkan harga bbm perlu pasang kuda kuda antar lembaga eksekutif pengusul terhadap legislatif, agar bisa goal dan terlihat cerdas sepihak?. Kok aneh negeri yang dikenal dengan “musyawarah untuk mufakat”, yang seharusnya bisa sederhana malah jadi rumit.
    4. Mungkinkah diperlukan pakar profesional yang bijak disetiap level jabatan, agar keputusan bisa tidak saling tunggu atau menghidar dan terkonsentrasi keatas untuk suatu keputusan, dan sebaliknya diatas juga bisa menyusun kebijakkan yang cerdas untuk diotorisasikan kebawah. Dalam hal per-undangan, mungkin perlu disederhanakan agar yang operatif dan teknis bisa disederhanakan tidak didramatisir jadi besar, dilakukan eksekutif. Terlalu banyak enersi bangsa habis hanya untuk BBM, padahal banyak hal lain yang harus dikerjakan dari hanya membahas masalah BBM ini.
Kesimpulan:
Seharusnya kenaikkan harga bbm bisa dilakukan bertahap dengan delta harga yang kecil per perioda tertentu (3 bulanan atau  6 bulanan) untuk tidak nengejutkan semua pihak. Efisiensi penggunaan bbm harus diutamakan dengan membangun infrastruktur transportasi masal berkapasitas besar yang nyaman, membanggakan, dan pasti akan terjangkau untuk semua pihak karena akan menurunkan biaya per liter bbm per kapita per tahun. Berikutnya kendaraan pribadi diperkotaan dibebani biaya tinggi parkir dikota atau pajaknya. Perlu diterpadukan antara terminal kendaraan masyal berkapasitas besra (kereta api, Bus, Mono rel, subway) dengan kendaraan pribadi  atau kendaraan umun kecil diarea satelit jauh dari  pusat kota dan setiap kendaraan masyal mampu menjakau pelabuhan besar, airport atau koneksi transportasi lain (laut, uddibuat perencanaan dan penerapan komprehensif optimalisasi enersi alt, dan kota lain disekitar pusat kota besar.
Perlu ditingkatan penmanfaatan enersi terbaharukan menjadi solusi yang terus dikembangkan. Diperlukan pembangunan kilang dengan bantuan invesrasi dan kebijakkan yang meringankan dari pemerintah, mengingat investasi kilang sangat mahal, tidak ekonomis jika dinilai dari amplop material balance kilang saja. Perlu disadari  dampak positif ekonomi dari pembengunan kilang dan stabilitas jangka panjang untuk bbm dan industri nasional masih sangat diperlukan dan akan berdampak sangat baik.
Perlu adanya perubahan dan penyederhanaan proses mufakat antar lembaga negara agar kebijakkan  eksekutif yang teknis yang harusnya cepat diambil antar lembaga legislatif-eksekutif tidak harus telat yang bahkan menjadi potensi bom waktu oleh karena prosedur atau politisasi atau kesulitan dialog dalam mencari mufakat akhir.
Pada Lembaga eksekutif diperlukan proses pengambil keputusan yang cepat tapi komprehensif agar tidak terlambat, atau semua keputusan karena prosedur menjadi telat, atau cenderung  bermuara keatas masih mentah, atau sebaliknya keputusan atau kewenangan  tidak dikuasai pemegang otoritas  karena yang punya otoritas tidak mengerti apa yang harus didelegasikan alias tidak profesional dibidangnya. Pemegang departemen teknis dinegara tercinta ini harus yang profesional, bukan dropping atau jatah bagi bagi kekuasaan partai. Demikian sekilas kesimpulan dari pengamatan dan pantauan atas berbagai situasi Nusantara terkini.
Semoga ulasan ini bermanfaat.
Salam.
Syo.

  

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.